Khamis, 26 November 2015

Pejabat baru

10 rules bertukar pejabat sbb naik pangkat atau tukar tempat kerja. Slogan dia, respect and harmony. What you give you get bek.. Haha.

Rule 1. Jangan baru tukar pejabat, terus nak tukar itu dan ini, ini tak betul, ni salah. Hormati sbb kamu masuk rumah orang.

Rule 2. Jangan baru ambik kepimpinan terus cakap "saya tak nak seperti sebelum ni.. Lembab, teruk dll. Simpan dlm hati kalau betul pun. Kene ingat jasa org sblm ini.

Rule 3. Jangan tukar terus berlagak nak tukar semua perkara. Mesti ada sebab orang dulu tak buat. Study dulu. Orang dulu pun tak kurang cerdik dari kamu.

Rule 4. Bekerja dengan tangan dan hati, bukan dengan mulut dan air liur.

Rule 5. Understudy, baca fail dan pekeliling. Paling kurang 2 minggu. Selepas 2 minggu bukan lagi orang baru. Jangan sampai 6 bulan cakap errr " saya masih orang baru".

Rule 6. Masuk meeting, dengar dahulu. Tengok cara orang bermeeting. Lain tempat lain cara. Jangan sibuk nak cakap itu ini. Kalau diberi peluang atau ditanya barulah jawab. Nanti orang tahu kita tak tahu. Jgn suka sebut, kat pejabat saya dulu mcm ni... Mcm bagus sgt pejabat dulu.

Rule 7. Org baru, sila sapa semua orang. Ada masa perkenalkan diri. Paling penting untuk dikenali adalah para pemandu dan makcik cleaner.

Rule 8. Jangan masuk-masuk bising itu tak cukup ini tak cukup. Guna sekadar yang ada. Yang penting satu pen hitam di poket. Kita bukan pegawai kerusi meja. Mintak pelan2.

Rule 9. Jangan masuk terus nak cari musuh, tembak orang tak tentu hala dalam meeting.

Rule 10. Hormati pegawai/kakitangan senior umurnya. Jangan kira dia apa pangkatnya. Mereka berpengalaman. Jangan marah atau tegur kesalahan mereka di khalayak. Jaga airmuka mereka.

Jangan marah ye. Kalau tak setuju ikut suka la. Semoga bahagia. Ini tok guru saya aja. Pejabat adalah rumah kedua kita. 8 jam sehari. Kita bekerja untuk hidup bukan kerja untuk bermusuh. Ular menyusup akar tidak hilang bisanya. Tapi lebih ganteng. Semoga berjaya di pejabat baru.

Rabu, 25 November 2015

Bisnes

Best advice if you're just starting or growing a business:

Focus at your customer more than your product. Get fixed on your customer experience, and your product will keep changing to serve them best. But fix your product, and customers will find a path that fits them, with or without you.

If you're waiting on the street corner, wondering where all your customers are, this post is for you.

We've moved from the industrial age where it was all about the product and productization to the technological age where it's all about the customer and customization.

Instead of focusing at product development and production lines (which we learned about and were a part of at school), focus at customer experiences and customization lines.

Your business doesn't start when you have a product. It starts when you have a customer. So who is your perfect customer? Start from there and ask yourself (and them):

Problem - What's the problem they need solved?
Promise - What's the benefit you deliver to them by solving it?
Product - How will you solve it better than others?
Proof - Why should they trust you?

Keep upgrading your answers (and your products) regularly. Because what your customers need, their expectations and how they are being served will keep changing fast. And once you get into flow, you'll begin to know what they need before them, and they'll begin pre-buying your next product.

"Get closer than ever to your customer. So close that you tell them what they need well before they realize it themselves." ~ Steve Jobs

The easiest way to future proof your business is to have customers that love you. The easiest way to fail is to love your idea or product more than you love your customers. So find your soul-market and fall in love all over again.

Selasa, 24 November 2015

Niat sentap

Dunia is just a paper .
What really in the paper was ilmu .
Tanampak lagi ?
Tengok eh .
Sedar tak .
Masa kita UPSR .
Ada slip UPSR .
Pergh !
Gempak ah 5A & 4A tu .
Pandai terer baq hang laa !
Kaw tip top punya straight A's kot .
.
Masuk Sekolah menengah .
PMR beb .
Sekali dapat slip .
8A's 9A's .
Fuh .
Ni lagi gempaq .
Memang otak paramesium tak cukup flagella laa .
Mesti study kaw kaw ni .
Masuk upper high school .
SPM .
Weh .
Penentu masa depan ni .
Penentu aku nak masuk U ni .
Takleh jadi .
Kena fokus ni .
9A's , 10A's , 11A's
And
To
Be
Continues A's .
Fuh .
Ni anak einstein ni .
Bijok bijok .
Now dah masuk U .
Foundation ni aku target nak masuk degree cepat cepat .
Masuk Degree .
Aku nak graduation cepat .
Sijil Ijazah tuu .
Penentu aku kerja mana .
Gaji ciput ke besaq .
Boleh dapat duit banyak .
Takleh lepas .
Dah grad .
Alhamdulillah .
Fuh .
Nak kerja la pula .
Nak kumpul duit .
Nak melancong .
Nak beli itu ini .
Nak kereta sport .
Wahhh .
Perasan tak ?
Dunia hanya kertas .
Dan
Paling teruk
Kita bergantung pada kertas ,
Untuk dapatkan kerja ,
Untuk masuk sekolah bagus bagus ,
Untuk masuk U yang cemerlang ,
Sedangkan ,
Allah yang menentukan semua tu .
Bukan ijazah ,
Bukan straight A's .
Betulkan mindset .
Kalau kau ada sijil master sekalipun ,
Tapi ,
Allah sendiri kata bukan rezeki kau kat situ ,
Kau tetap takkan dapat .
Kalau Allah dah kata bukan rezeki kau kerja kat sini ,
Kau tetap takkan dapat even kau usaha macam maba pun .
Sebab Allah dah takdirkan macam tu .
Habis tu ?
Macam mana aku nak dapat kerja bagus semua tu kalau kau sendiri kata takleh pandang sijil semua tu ?
Betulkan niat la beb .
Sijil tu laku kalau kau memang niat dari awal kau masuk sekolah dulu untuk menimba ilmu ,
Dan ,
Ajarkan pada kawan kawan kau pula .
Bukan simpan ilmu tu dalam sijil je ,
Pastu ,
Just tunjuk untuk masuk sekolah bagus bagus .
U bagus bagus .
Pehal kan ?
Takyah sombong dengan Allah .
Ilmu Allah bagi kejap je .
Bila bila masa Allah boleh tarik balik ilmu yang kau ada .
Kongsikan ilmu yang kau ada .
Tak rugi .
Aku bukan apa .
Risau apa aku sebarkan tu salah .
Kau niat nak timba ilmu ,
Namapun menimba ilmu ,
Maksudnya ,
Sampai kau mati pun nanti dinamakan ,
Proses pembelajaran .
Kau tetap akan belajar dan belajar ilmu Allah .
Ilmu Allah luas .
Bukan sains , akaun , ekonomi , math , dsb .
Ada ilmu fiqh .
Ilmu usuluddin .
Ilmu al falaq .
Ilmu tasawuf .
Banyak bro .
Tak terkira dek akal .
Jadi ,
Jangan hanya pandang pada dakwat yang tercatat 3.5 , 4.0 , 10A's , 11A's . . .
Tu semua tak lebih dari kertas yang datangnya dari pokok yang datangnya dari Allah .
Tak lebih dari dakwat yang datangnya dari campuran air dan pewarna yang sumbernya datang dari Allah .
Apa apa pun ,
Balik pada Allah .
Pinjaman dari Allah .
Kiamat nanti Allah hisab balik .
Tangan ni ,
Kau buat benda baik ke jahat ?
Kaki ni ,
Kau pergi tempat ilmu ke tempat maksiat ?
Mata ni ,
Kau tengok ilmu ke kau tengok maksiat ?
Mulut ni ,
Kau banyak cakap kotor atau bagus ?
Hati ni ,
Kau selalu ikhlas atau hanya bohong ?
See ?
Back to Allah .
Nak buat apa apa .
Tanya diri .
Allah redha tak apa aku buat ni ?
Kalau masa nak buat tu kau rasa lain macam .
Macam jantung kau laju semacam .
Ada something wrong lah tu .
Allah tegur la tu .
Hidup kita bergantung pada Allah .
Bukan sekeping kertas dan setitis dakwat .
Memang .
Memang cgpa semua tu penting .
Tapi apa yang lagi penting ?
Niat .
Dalam kitab Imam Nawawi .
Hadis pertama pasal niat kot .
#PerbetulkanNiatfisabilillah☺

Isnin, 23 November 2015

Dakwah

Balik dari kuliah,
Acah-2 penat.
Muka macam otromen baru kalah dengan raksasa Gorgon. Kalau kucing Mak Cik Limah tengok pon, mungkin boleh koma 8 jam 10 minit.

Kalau otak penat sebab dah hadam terlalu banyak ilmu yang baru belajar, it's okay lah.
Tapi kalau dalam kelas pun tak fokus mana,
Balik rumah dalam keadaan otak kosong tak ingat belajar apa,
Lepas tu bising penat penat penat, gaya macam baru habis hafal surah Al-Baqarah dalam masa 60 saat.. Lorh. Apa kejadah?

Selalu kita merungut.
Masa tak cukup.
Tak sempat dah ulangkaji pelajaran.
Terpaksa keluar meeting setiap minggu.
Selalu miss SG sebab clash dengan aulawiyat lain.
Kadang tidur lewat sebab program habis lambat.

Terus-terusan dahi dikerut, mulut membebel kalah bunyi lebah yang sibuk mengumpul madu.

Kita lupa.
Lupa sangat.
Ada orang, kondisinya lagi teruk dari kita.
Ada orang yang sampai terluah dari lisannya, 'tolonglah siapa yang suka buang masa tu, kalau dapat nego masa dia dengan aku, aku sanggup beli..!'

Kita seminggu sekali meeting, Ada orang hari-2 kena spend 2-3 jam untuk meeting. Apa sangat kalau nak dibandingkan dengan kita?

Kita terus membising. Kita terpaksa hadir dan handle program itu dan ini lantas terpaksa tinggal kejap SG untuk beberapa kali.
Ada orang, tak mampu datang terus SG dan terpaksa study sendiri dek terlalu banyak taklif yang tergalas di bahu sampai terasa tulang clavicle nak tercabut menyembah bumi. Tapi, dia tak merungut, sebaliknya tetap terus kuat untuk mencari jalan survive buat diri sendiri.

Oh. Bila selfie hati sendiri, betapa losernya aku.

Everyone has their own struggles ; Mengikut siapa dia, posisi dia dan kerja-2 yang mengikat.
Tapi, aneh ya.
Kenapa orang yang lagi super duper busy dari kita tak membising macam kita?
Tak protes macam kita?
Tak memberontak macam kita?
Dia tak penat ke?
Ke dia jelmaan malaikat? Gulp.

Allah uji seseorang itu untuk menguatkan dia.
Lagi berat ujian, lagi kuat jiwanya.
Mungkin, teori saya, orang yang lagi berat ujian dari kita tapi tak banyak merungut itu, jiwa mereka sudah tahan lasak dek selalu mendapat tarbiyah terus dari Tuhan.

Sedangkan kita ?
Kita masih lembik dan belum lulus ujian Tuhan. Sebab tu bila Allah bagi ujian sikit, jadual penuh, setiap hari kena keluar rumah untuk selesaikan gerak kerja ummah, kita merungut lagi dan lagi.
Padahal baru dicuit sikit.
Padahal belum tahap kena tadhiyyah tak makan nasi 3 hari.
Belum tahap kena tidur berbantalkan tanah berlangitkan atmosfera bumi.

Orang yang kuat dia percaya,
Allah adalah kekuatannya.
Bila hatinya rasa tak mampu dan hampir capai limit,
Dia yakin Allah pasti membantunya, dia yakin kemampuannya masih boleh diExpand.

Kerana optimis itu perlu,
Percayalah pada diri sendiri.
Uruskan 24 jam yang Allah bagi dengan berhati-hati.
Biar kita tak meraung pada masa nanti,
Why I dont do this and that masa dulu-2?
Why?
Why?

Ingatlah. Penghuni Neraka menangis minta nak kembali ke dunia. Semuanya kerana satu perkataan ; menyesal.

- Qasrus Syuhada -

Usb file virus

:: File Dlm Pendrive & Laptop Jadi Shortcut ::

Ada sorang student UITM Shah Alam datang nak print assignment, bila cucuk je pndrive, buka tengok semua file dalam pendrive hilang/dah xde.

Apa lagi mengelabah lah student tu, siap nak nangis bagai. Mana taknya 1jam lebih je lagi masa utk hantar. (memang dah lumrah student buat assignment last-last minit, admin masa belajar dulu pun sama jugak,bukan kata kat org lain pun hihihihi.

Admin tanyalah sebelum dtg td ada cucuk kt mana-mana ke pendrive tu, dia kata cucuk kt laptop member je tadi nk siapkn assignment.

Kesian pula admin tengok, so admin kata meh sini pendrive tu nk tolong, tak sampai 3minit admin buat, semua file yg hilang tadi dapat kembali. Punyalah hepi student tu siap melompat-lompat kegembiraan.

Wahh, hebatnye abang buat magic apa sampai boleh dapat balik semua file yg dah hilang tadi? student tu bertanya pada admin.
Tak ada Magicnye, hanya dengan berbekalkan sedikit ilmu, jawab admin. kemudian student tu terus tersenyum dan ucapkan terima kasih.

Pernah tak perkara ini berlaku kat korang semua?

Meh admin nk share sikit Ilmu yang paling senang utk kembalikan semua file dlm pendrive or laptop korang yang dah jadi shortcut disebabkan virus. Kalau korang hantar kedai kadang2 kena cas jugak, so lepas ni bolehla cuba buat sendiri ek :)

Ikuti beberapa langkah berikut :-

Step 1
Tekan "Windows+R" serentak nanti akan keluar "RUN" dan taip "cmd" pada kolum "open" dan enter.
@ buka "cmd" pada Windows>All Program>Accessories>Command Promph.

Step 2
Selepas buka "cmd" anda perlu pilih drive mana yg nak di repair, contohnya sy ambil drive F kerana pendrive sy berada di drive F. Anda perlu taip "F:"

Step 3
kemudian enter, akan keluar "F:\>"
{standard laptop/pc drive C utk windows, drive D utk data, so kalau masuk pendrive akan jadi drive E dan ke atas}.

Step 4
Kemudian anda perlu taip " attrib -s -h *.* /s /d" dan enter.

Step 5
Tunggu sehingga keluar balik perkataan ini "F:\>"

Step 6
Setelah perkataan ini keluar "F:\>" bermakna anda telah berjaya.

Step 7
Terakhir, anda sudah boleh buka file dlm pendrive anda tadi, akan kelihatan semua file-file yang selama ini hilang/hide disebabkan virus.

SELESAI...
(admin sertakan juga contoh print screen utk rujukan)

p/s : sori jika ayat/perkataan admin berterabur kerana #iamnubis baru nak belajar menulis,berkongsi ilmu pada semua pengguna :)

semoga bermanfaat.

Ahad, 22 November 2015

TPPA

Obama dah sampai, TPPA akan jd realiti;

Tun Dr Mahathir....buat renungan orang melayu.

APA DISEBALIK TPPA?

1. Perjanjian Perkongsian Trans Pasifik (TPPA) bukan soal perdagangan semata-mata. TPPA secara asasnya adalah perjanjian geopolitik Amerika, menggunakan perdagangan sebagai laluan tradisi untuk mengawal negara-negara peserta. Justeru keterlibatan negara dalam TPPA memberi erti secara langsung bahawa Malaysia sudah masuk blok Amerika dan tidak lagi berkecuali.

2. Sejarah Syarikat Hindia Timur yang datang ke Tanah Melayu atas nama perdagangan, berakhir dengan penjajahan berkurun lamanya. Perbalahan sesama sendiri antara pemerintah Melayu pada masa itu, selain pergaduhan kongsi gelap pendatang yang menjarah kekayaan muka bumi, menyebabkan pedagang luar dijadikan kawan, bukan lagi kerana perdagangan, tetapi untuk mendapatkan kekuatan politik, yang kesudahannya memaksa orang-orang Melayu menerima kehadiran Residen British.

3. Sebelum kedatangan British, undang-undang syarak adalah undang-undang yang tertinggi di Tanah Melayu. Selepas kehadiran Residen British, undang-undang syarak dikecilkan skopnya dan dipinggirkan. Kesannya masih kekal sehingga ke hari ini.

4. Sudah tentu nama Residen British tidak akan kembali. Tetapi senarionya tetap sama. Campurtangan British ke dalam urusan pemerintahan di Tanah Melayu adalah atas dasar kepentingan pihak-pihak yang terlibat, yang mengundang mereka masuk. Itulah juga yang berlaku dalam senario TPPA.

5. Umum mengetahui ketidakstabilan politik orang-orang Melayu; akibat perpecahan kepartian yang melampau dan isu intergriti yang sudah menjadi buah mulut orang ramai. Mahu tidak mahu, keadaan ini melorongkan pemain-pemain politik untuk lebih memikirkan survival politik masing-masing, berbanding masa depan Islam dan orang Melayu. Masing-masing mahu mencari kawan yang kuat, termasuk dari luar.

6. Kapitalis-kapitalis yang sudah sekian lama menjarah kekayaan bumi bertuah ini, sememangnya telah lama juga menanti saat berkuburnya dasar-dasar dan tindakan-tindakan afirmatif, yang masih membataskan penjarahan mereka. Cita-cita mereka sudah semakin hampir tercapai, kerana TPPA yang dimeterai nanti akan memaksa kerajaan melakukannya, sedikit demi sedikit. Inilah rahsia mereka banyak berdiam diri terhadap isu TPPA, tidak membangkang kerajaan sebagaimana biasa. Malah parti utama mereka sudah pun menyatakan persetujuan di sebalik tabir.

7. Jika kerajaan memberikan layanan istimewa kepada syarikat Melayu dan bumiputera, selepas TPPA ditandatangani, kerajaan boleh disaman di tribunal antarabangsa, seperti yang berlaku kepada kerajaan Afrika Selatan akibat melaksanakan dasar mengutamakan rakyat kulit hitam, yang dikenali sebagai ‘Black Economic Empowerment’, yang mirip Dasar Ekonomi Baru.

8. Kerajaan boleh berjanji bahawa kepentingan dasar-dasar teras negara akan dipelihara, sebagaimana yang disebut oleh Perdana Menteri. Kesemua pemimpin negara yang pernah disaman di Investor-State Dispute Settlement (ISDS) juga berkata lebih kurang begitu untuk meyakinkan rakyat masing-masing. Bagaimanapun, statistik kes saman di ISDS menunjukkan peningkatan ketara dari semasa ke semasa.

9. Ini bermakna, peruntukan dalam Perlembagaan Persekutuan, yang memberikan keistimewaan kepada orang-orang Melayu dan bumiputera, akan tidak terpakai lagi. Melayu dan bumiputera akan dilayan sama seperti warga asing. Bukan lambat laun. Malah hanya sepelaung.

10. Kedudukan istimewa Islam dan orang-orang Melayu dalam Perlembagaan akan dikira sebagai ‘trade barrier’. Penapisan filem-filem lucah boleh dikira satu bentuk sekatan perdagangan bebas. Peruntukan tanah rizab juga begitu. Semuanya boleh dicabar di ISDS. Satu jalan untuk mengekalkan kedudukan istimewa itu dalam Perlembagaan; dengan tidak menguatkuasakan apa-apa undang-undang berkaitannya. Jadilah ia kekal dalam Perlembagaan dan tidak dicabar, walaupun tiada membawa apa-apa makna lagi
.

11. Kerajaan begitu tegas sekali menyatakan bahawa Parlimen akan membahaskan dan menentukan sama ada Malaysia akan menerima atau menolak TPPA. Kelihatan betapa nilai demokrasi dijunju
ng tinggi dan kehendak rakyat diutamakan. Hakikatnya, Parlimen hanya diberi kata dua; terima atau tolak, dan ruang masa yang diberi hanya dua bulan, untuk meneliti dokumen yang amat teknikal sifatnya. Kita sudah boleh menjangkakan keputusannya.

12. Kelicikan diplomasi dan perundingan Washington yang menderafkan perjanjian, yang melibatkan 600 penasihat korporat mereka, diteruskan dengan kelicikan pentadbiran Kuala Lumpur yang bermain bahasa antara kuasa eksekutif yang berkuasa membuat keputusan dan kuasa perundangan yang boleh memberikan imej demokrasi kepada proses yang tidak telus dan dirahsiakan selama ini. Kesemua kelicikan diplomasi dan pentadbiran itu hanya untuk melunaskan kemahuan syarikat multinasional Amerika-Yahudi. Orang melayu akan kembali hina dan mundur kesan daripada TPPA, sama seperti akibat penjajahan ratusan tahun lalu.

Tun Dr. Mahathir Mohamad.

Sungai manik

Cerita benar yang lebih lengkap dan terperinci tentang perjuangan berdarah orang2 melayu keturunan Banjar Sungai Manik menentang komunis..
Saya kongsikan untuk sama2 kita ambil manafaat.. terkadang ada bahasa2 banjar yang terselit di dalamnya..harap maklum sebab saya pon bukan orang banjar..heheh

PERANG SUNGAI MANIK

Cerita di bawah ini adalah terjemahan dari cerita asal bahasa Banjar bertajuk “Sungai Manik Bamandi Darah”. yang diterjemah ke Bahasa Melayu oleh Utuh Lingkun didalam blog beliau dibawah tajuk Perang Sungai Manik.

Diterbitkan semula disini agar pembaca yang belum membacanya di Utuh Lingkun boleh membacanya disini. Ia merupakan satu kisah benar yang perlu diketahui oleh orang2 Melayu/Islam dan dapat dijadikan iktibar.

Badan Ismail Rudo yang sudah tidak berkaki dan bertangan menggelupur di atas titi dan sedang menunggu masa untuk nyawa berpisah dengan badan – kedua belah kaki dan tangan Mail Rudo putus ditetak parang ‘bungkol’ Utoh Putih. Air jernih yang mengalir deras di bawah titi bertukar merah disirami darah. Maka tertawa besarlah ‘sangkala’ mendapat habuan petang – darah dalam jantung adalah makanannya. Begitulah adat orang berkelahi, salah seorang pasti kecundang. Selepas Asar, Mail Rudo pergi seorang diri – menghembuskan nafas terakhir tanpa seorang pun yang sudi mendekatinya. Sepucuk pistol .38 tanpa peluru masih berada di sisi jasad yang sudah tidak bernyawa lagi. Ramai penduduk Bendang DO, parit 6, Sungai Manik terdiri dari keluarga Banjar. Kehidupan mereka begitu daif, terhimpit dan dihimpit oleh gerombolan komunis yang bermarkas di Sungai Tungko, dan diketuai oleh Ah Pau, Ah Boon dan Ah Jang. Pembunuh Mail Rudo, orang kuat Parti Komunis Malaya (PKM) mesti ditangkap segera.

Utoh Putih, Banjar ‘Alai’ jati beranak dua – anak bungsunya seorang bayi perempuan dan baru pandai berdiri-jatuh. Dia menetap di Pekan Rabu, Parit 6, Sungai Manik. Oleh kerana warna kulitnya yang tersangat cerah maka lekatlah gelaran Utuh Putih. Arwah datuk (pencerita) dan Utuh Putih adalah rakan karib yang sama hebat ilmu zahir dan batin. Mail Rudo, Banjar Sungai Tungko, Sungai Manik sudah lama menyertai PKM dalam bahagian risik. Selepas tentera Jepun menyerah kalah, Mail Rudo ditugaskan mencari ahli baru dalam daerah Sungai Manik. Disebabkan tidak ramai keluarga Banjar yang sudi menyertai perjuangan komunis, maka akhirnya Mail Rudo terpaksa menggunakan kekerasan. Mereka yang enggan akan menerima padah.

Saban hari ada saja penduduk kampung yang ditangakap, tak kira muda ataupun tua. Disiksa, disembelih, disumbat dalam guni hidup-hidup dan dibuang ke Sungai Perak, ditembak, disula, dan bermacam lagi hukuman. Begitulah gerangan bila manusia (Mail Rudo) sudah ada kedudukan – mudah lupa diri hingga hilang rasa kemanusiaan. Pada masa itu bukan sedikit orang Banjar dan orang Melayu yang menyokong perjuangan komunis. Malah ada juga orang Banjar yang hebat ilmunya turut menjadi talibarut. Orang seperti itulah yang menjadi duri dalam daging penduduk setempat. Oleh kerana terlau mengejar pangkat mereka sanggup membunuh, membakar rumah dan memusnahkan harta benda bangsa sendiri. Penduduk kampung yang takut menyertai perjuangan komunis secara aktif dipaksa pula membayar yuran sebagai ahli PKM. Kehidupan keluarga Banjar di Sungai Manik semakin terhimpit. Ramai yang terpaksa berpindah ke penempatan Banjar di seberang Sungai Kinta – ke Kampung Balun Bidai dan Kampung Gajah.

Waktu Zohor baru saja masuk. Alun air bendang dihembus bayu membuat hati terasa rawan. Sambil memikul guni berisi ubi, Utoh Putih melangkah cermat menuju titi untuk kembali ke rumah di Pekan Rabu. Sebaik sampai di pangkal titi…

“Dari mana gerangan ni ‘Toh, akhirnya bertemu juga kita di sini ye?” entah dari mana munculnya si Mail Rudo, tiba-tiba saja tercegat di tengah titi berpakaian seragam komunis, pistol dan bayonet terselit di pinggang. Di wajahnya terpancar rasa kepuasan kerana dapat bertemu dengan Utoh Putih yang sudah sekian lama dipujuknya supaya menyertai PKM.

“Baru balik dari Cikus mencari ubi, maafkan saya tuan, tumpang lalu” Utoh Putih menyahut penuh hormat.

“Kalau ia pun letaklah dulu guni ubi tu, tak usah bergegas, apa yang nak dikejar, tak ke mana perginya rumah tu” garau bunyi suara Mail Rudo. Antara rela dan terpaksa, Utoh Putih mematuhi perintah ‘tuan besar’ dan meletakkan guni ubi di atas titi. Begitu gah susuk tubuh dua orang anak Banjar yang berdiri di atas titi menghadap satu sama lain, cumanya seorang berkulit cerah manakala seorang lagi kelihatan gelap.

“Mungkin petang ini pertemuan kita yang terakhir, agaknya” si Mail Rudo menyambung bicara.

“Apa hajat, kenapa lain benar kata-kata tuan besar?” si Utoh Putih yang menyambut bicara merasakan ada sesuatu yang tak kena.

“Tak usah pura-pura tak tau, bagaimana dengan janji kau dulu? Sampai hari ini aku masih menunggu kata putus” rungut orang kuat PKM menempelak.

“Taklah Mail, aku tak nak ikut perjuangan yang membinasakan bangsa, sedangkan perjuangan untuk mengisi perut sendiri dan anak bini rasa dah tak tertanggung. Tidak…tidak sekali-kali” si Utoh Putih menjawab tegas.

“Mak oi, keras benar hati kau ni ‘Toh…apa nak buat…kalau itulah pendirian kau, bersiap sedialah” merah padam muka Mail Rudo kerana marah. Spontan tangan kanannya mencapai pistol di pinggang dan mengacukan ke dada si Utoh Putih.

“Jangan, senjata jangan dibuat main Mail ai…kita kan serumpun, tak kanlah kau tak ada belas kasihan. Ditakdirkan aku tak ada, siapa yang nak menyara anak isteriku nanti…ampun tuan besar” si Utoh Putih merayu minta simpati.

“Dam…” bunyi pistol memuntahkan peluru sulung. Berasap baju buruk si Utoh Putih dihinggapi peluru, namun dia masih tak berganjak, masih tegak berdiri. Keluarga Banjar berhampiran yang terkejut melihat kejadian tak berani mendekati, masing-masing masuk ke rumah.

“Dam…dammmm…” sudah tiga das tembakan dilepaskan oleh Mail Rudo namun peluru masih tak mampu menembusi kulit si Utoh Putih.

“Bangsat betul, kebal rupanya kau ye…tahani lagi nah” tengking orang kuat PKM. Tanpa disedari sudah enam das tembakan dilepaskan dan pistolnya sudah kehabisan peluru. Sedang dia terkial-kial…

“Labukkk…” ayunan parang bungkol yang bergelar si Kandal Larap hinggap dipergelangan tangan kanan Mail Rudo yang membuatkan tangan itu putus serta merta.

“Labukkk…” giliran tangan kiri si Mail Rudo untuk jatuh ke tanah. Utoh Putih meneruskan ayunan. Kali ini lutut kanan Mail Rudo pula jadi mangsa parang bungkol Kandal Larap. Setelah putus kaki kanan, maka terdamparlah Mail Rudo di atas titi. Si Utoh Putih semakin geram. Tetakan terakhirnya membuat kaki kiri Mail Rudo bercerai dengan badan. Guni yang berisi ubi diletakkan semual ke bahu, dan Utoh Putih terus balik ke rumah meninggalkan Mail Rudo mengerang kesakitan.

Markas PKM di Sungai Tungko gempar mendapat berita tentang pembunuhan Mail Rudo. Dengan bersenjatakan raifel MK5, berduyun-duyun gerombolan komunis yang diketuai orang kanan mereka si Ah Pau bergegas menghala ke Bendang DO, Parit 6, Sungai Manik. “Ai yaa…kaki tangan semua kasi potong habit ka…manyak cilaka itu olang.” bebel si Ah Pau apabila terpandang mayat Mail Rudo yang masih tabirangkang (terkangkang) di atas titi. Tak seorang pun keluarga Banjar di Bendang DO yang berani tampil menunjukkan muka. Mereka hanya menyaksikan dari jendela rumah masing-masing. Hari semakin larut petang, gerombolan komunis masih riuh berbincang sesama sendiri. Entah apa yang mereka bincangkan tak seorang pun penduduk kampung yang mengerti. Sejurus kemudian, kumpulan komunis itu pergi dari rumah ke rumah manggandah (mengetuk kuat) dinding mengarahkan orang kampung, tua dan muda, berkumpul di hadapan Pekan Rabu. Seorang demi seorang di soal siasat termasuklah Utoh Putih. Namun, keluarga Banjar sepakat berpura-pura tak kenal siapa yang membunuh Mail Rudo. Akhirnya kepala komunis, si Ah Pau memberi kata dua: Kalau pembunuh Mail Rudo tidak ditangkap, Bendang DO akan jadi padang jarak padang tekukur. Mayat Mail Rudo ditayut (diikat) dengan tali dan dikandar (galas) dengan kayu panjang untuk dibawa pergi. Rasa maras (kesian) pun ada melihat cara mayat diperlakukan – tak ubah seperti mengandar hasil buruan babi hutan. Tak siapa yang tau ke mana mayat itu dibawa, ditanam atau dibuang ke Sungai Perak. Kalau dibuang ke sungai pastinya ternganga luas mulut sang kuradal (buaya) mendapat habuan petang. Warga Banjar sepakat meminta Utoh Putih membawa isteri dan anak-anak meninggalkan Bendang DO dengan segera. Maklum sajalah, muntung guri (mulut tempayan) boleh dipisiti (ditutup rapat), mulut manusia siapalah tau. Tapi apa pula kata empunya diri…! “Cakada (tidak) saudaraku. Untuk apa kalau aku seorang saja yang maharagu (menjaga) anak dan isteri sedangkan kalian sabarataan (semua) terpaksa menanggung derita…aku tak akan meninggalkan kampung ini. Tidak, tidak sekali-kali, apa nak jadi, jadilah.” jenuh penduduk kampung memujuk namun Utoh Putih tetap dengan pendiriannya. Sudah tiga hari berlalu, Emoh sahabat karib Utoh Putih yang baru dapat berita segera menonongmangunyur (menonong) meninggalkan Balun Bidai menyeberang Sungai Kinta menuju ke Bendang DO untuk menemui sahabat karibnya, kawan sehati, seperguruan dan sama juhara (jaguh). Persahabatan mereka lebih akrab dari hubungan adik-beradik, dan tentunya Emoh tak akan membiarkan mahijaakan (membiarkan) sahabatnya keseorangan dalam keadaan sedemikian.

“Pariannya (andainya) aku madam (berhijrah) meninggalkan Bendang DO, mati juga akhirnya, ajal maut sudah ditentukan, tak siapa boleh kawa (menghalang).” Utoh Putih memulakan perbualan setelah selesai makan malam itu.

“Ai, jangan begitu, apa pangrasa (resa) kau ‘Toh?” tanya Emoh yang mula rasa tak sedap hati.

“Tak lah, manalah tau,” jawabnya ringkas.

Walau bagaimana pun, Emoh masih rasa gelisah kerana lain benar kelakuan sahabatnya yang semakinambak (pendiam) , lebih bersikap mengiakan dari merancakkan perbualan. Selalunya kalau lama tak berjumpa, tak kering gusi mereka berbual.

Malam semakin larut namun dua orang sahabat karib itu masih lagi belum tidur, masih ‘garunuman’ berbual.

“Moh, andainya ajalku sampai, jangan bersusah payah membawa mayatku ke Balun Bidai, kebumikan saja di sini. Tapi, jangan kau lupa membawa anak isteriku dan serahkan kepada keluarganya di sana. Sepanjang kita bersahabat, kalau ada terlebih terkurang, aku minta halal dunia akhirat. Engkau pula Moh, biarlah disederhanakan manjuhara (menunjukkan kejaguhan). Berhati-hatilah memilih kawan. Satu lagi…tapi jangan pula kau anggap aku menghalau…esok sebelum Zohor, aku minta kau segera beredar dari rumahku, ke mana yang kau nak tuju, aku tak batangatan (melarang). Tak ada apa-apalah, cuma aku rasa lebih selesa kalau bersendirian!” Marigap (rasa berderau darah) si Emoh mendengar kata-kata sahabatnya, lantas bangun mendakap Utoh Putih. Muntung bungkam (mulut terkunci) – tak sepatah kata pun yang terucap antara mereka kecuali barubuian(deraian) air mata mengenangkan nasib yang bakal menimpa. “Mungkin sudah sampai janji (ajal) saudaraku ini,” bisik hati kecil Emoh.

Mereka terus berbual sampai ke subuh.

Dalam remang (tatarauan) subuh, kedua sahabat sudah tacugut (tercegat) di tepi telaga mandi.

“Ayuha, duduklah ‘Toh…..Bismillahirahmanirahim…..” Emoh membaca ayat mandi suci sambil manguboiakan (menyiram) air memandikan sahabatnya si Utoh Putih hingga selesai.

Api di dapur barau (marak) dengan isteri Utoh Putih sibuk menyediakan sarapan pagi. Kesian si isteri kerana tak tau kisah dan hujung pangkal cerita. Pada pengamatannya, bermandi-mandian di subuh hari sudah jadi kelaziman dua orang pendekar tersebut.

Panas semakin terik di Bendang DO sebagai tanda pagi sudah baugah (beralih) ke tengahari. Maka tibalah saatnya untuk kedua sahabat itu berpisah. Salah seorang terpaksa mamingkuti (memegang) janji.

“Jangan lupa pesan guru kita wahai saudaraku, walau nyawa sudah berada di hujung, jangan sekali-kali kau lupa….” pesan Emoh kepada Utoh Putih. Kedua sahabat berpelukan untuk kali terakhir.

“(Barilaan) kita dunia akhirat.” dengan kata-kata itu, Emoh terus menonong meninggalkan sahabatnya si Utoh Putih tanpa menoleh lagi ke belakang. Ke mana gerangan tujuannya, tak siapa pun tahu.

Selepas solat Zohor tengahari itu, kelopak mata Utoh Putih terasa berat kerana tak tidur semalaman. Anak bungsunya sudah marinuk (merengkok) terlena di tepi lulungkang (jendela) anjung rumah. Hembusan bayu Bendang DO terasa dingin. Tak lama setelah Utoh Putih merebahkan badan di sebelah anaknya, dia pun turut terlena.

Hari semakin menghampiri petang. Entah kenapa gerangan hari ini Bendang DO sunyi sepi. Tak seorang pun yang kelihatan gagaliwalak (mundar mandir) di luar rumah seperti hari-hari biasa. Agaknya mereka sengaja mendiamkan diri dalam rumah, masih terkejut dengan kematian Mail Rudo dan kata-dua komunis, atau sedang menghitung hari kerana tempoh seminggu yang diberikan PKM semakin hampir.

Tanpa disedari enam ikung (orang) komunis sedang karayapan (merayap) mamaraki (menghampiri) rumah Utoh Putih. Kabujuran (kebetulan) pula, isteri dan anak sulungnya tidak ada di rumah kerana pergi maunjun (mengail) ikan puyu bersama kawan-kawan. Dengan menatang raifel MK5, gerombolan komunis terjingkit-jingkit menjenguk setiap jendela rumah. Sebaik terpandang Utoh Putih yang sedang lena, tanpa membuang masapalumpongan (muncung) MK5 diacukan ke kepala dari luar jendela.

“Dahui…dahui…dahui…” tiga kali muncung raifel memuntahkan pilur (peluru). Kerana sudah sampai waktunya – sampai ajal – kekebalan Utoh Putih berakhir. Tak sedikit pun yang tinggal. Mangarabuak (menggelegak) darah dalam jantung keluar menerusi ruang-ruang terbuka di kepala. Mujur juga anak kecilnya tidak diapa-apakan.Kuciak papar (menjerit sakan) si anak yangt terkejut, bakayukut (merangkak) mendakap bapanya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Galahakan (berdekah-dekah) ketawa gerombolan komunis kerana puas dapat membalas kematian Mail Rudo. Selepas itu mereka terus balik meninggalkan Pekan Rabu, Bendang DO menghala ke Sungai Tungko.

Si Emoh yang sedang dalam perjalanan menghala ke Bendang DO manggisit (hampir) terserempak dengan kumpulan PKM yang masih terbahak-bahak kegembiraan. Mujur juga dia ternampak mereka lebih dahulu, lantas melompat manyungkupakan (menyembunyikan) diri ke padang tagah (dalam semak). Parang bungkol yang bergelar “si Buruk” sedia tergenggam di tangan. Andai ketemuan, tak taulah apa yang akan terjadi. Mujur juga dia masih lagi dilindungi Allah, dan tak seorang pun ahli komunis tersebut dapat melihatnya.

Barubuian (bercucuran) air mata Emoh terkenang sahabatnya si Utoh Putih. “Mungkin dah tak ada lagi saudaraku ini” bisik hati kecilnya. Belum pun jauh kumpulan komunis itu berlalu, Emoh bingkas dan bukah mancicing (pantas berlari) maranduk (meredah) pinggir bendang menghala ke rumah Utoh Putih yang sudah mula barumbung (ramai) orang.

“Ayuha, pergilah dulu wahai saudaraku kerana bila sudah sampai masanya, tidak siapa dapat menghalang” bisik Emoh ketika terpandang jenazah si Utoh Putih. Barataan (semuanya) warga Banjar di Bendang DO batarukuian (sepakat) untuk menyempurnakan jenazah petang itu juga. Dalam keadaan serba kekurangan kerana darurat, pengkebumian berlarutan sampai ke malam.

Betapa benarnya kata-kata “kalau mulut tempayan pekasam boleh disumpali (disumbat) dipisiti (ketat), mulut manusia siapa yang dapat menduga”. Tentu ada yang anju ataran (celupar) kalau tidak masakan PKM tahu Utoh Putih yang empunya angkara.

Mangkining (mengerlit) kilauan parang bungkol si Kandal Larap yang sudah tidak bapagustian (bertuan) tersangkut di tawing (dinding). Sambil mengusap mata parang bungkol peninggalan sahabat karibnya, hati Emoh berkata “Satu ketika nanti akan ku mandikan si Kandal Larap dengan darah seteru haram jadah…”

Sudah seminggu berlalu, mujurlah tidak ada apa-apa kejadian yang tak diingini berlaku di Bendang DO. Pun begitu, keluarga Banjar yang berada di situ masih curiga kerana maklum sajalah janji komunis tak boleh dipercaya. Dalam diam, kerabat PKM sudah membina sebuah markas kecil kira-kira satu kilometer dari Bendang DO dengan tujuan mengawasi dan berkempen kononya tak siapa pun yang boleh memerdekakan Tanah Melayu selain dari PKM.

Ramai jugalah orang Melayu dan Banjar yang mula terpengaruh diresapi dakyah komunis hingga ada yang sanggup menyertai kumpulan bersenjata, manakala yang penakut atau berani-berani lalat pula memadailah sekadar menjadi mata dan telinga mereka.

Markas PKM di Bendang DO tak mendapat sambutan langsung. Perjuangan apa gerangan kalau caranya lebih teruk dari pemerintahan Jepun. Begitulah agaknya tanggapan warga Banjar seluruh Bendang DO – geram benar gamaknya.

Ketua komunis di markas besar Sungai Tungko mula gelisah kerana kempen merekadipahawai (dipandang sepi) oleh warga Banjar di Bendang DO yang masih keras hati. Akhirnya gerombolan PKM terpaksa membuat percaturan lain…menimbulkan masalah saban hari; tak cukup dengan makanan, harta benda orang kampung dirampas, tanamantakundangsai (musnah) diinjak dilenyek. Namun tidak juga membawa hasil yang diharapkan malah semakin menambah barau (marak) api kemarahan warga Banjar.

Ah Pau, Ah Boon dan Ah Jang orang kuat komunis mengeluarkan perintah dan amaran terakhir; kalau tak sanggup melihat Bendang DO menjadi padang halilintar, dalam masa seminggu warga Banjar diarah mengumpulkan kaum perempuan yang masih muda, tak kiralah anak dara atau isteri orang. Sudah lama benar gerangan si kulup ini menagih kaum perempuan, dan kalau itulah caranya, bagaimana gerangan dapat menentang British kelak!

Begitulah, satu perintah, satu tagihan, yang menyusahkan warga Banjar Bendang DO. Ke mana hendak mengadu kerana dalam keadaan darurat begini, Penghulu tak ada, Ketua Kampung pun tak ada. Bagaimana ye!

Haji Bakri, Banjar dari suku kaum Rantau baandah (berhijrah) dari Kalimantan ke Sapat, Sumatera. Dari Sapat berhijrah pula ke Batu Pahat, Johor, dan bertemu jodoh di sana.

Isteri tua bangaran (bernama) Patmah binti Hj Hassan dan dikurniakan dua orang anak – Zainab dan Abdul Majid. Isteri muda bernama Samiah binti Hj Abdul Jalil dan dikurniakan tiga orang anak – Abdul Kadir, Abdul Hamid dan Siti Sarah.

Hj Abdul Kadir anak lelaki Hj Bakri dengan isteri muda memakai menggayakan jubah peninggalan arwah bapanya

Haji Bakri lemah lembut orangnya, sentiasa merendah diri matan (hinggakan) tak ramai yang tahu tentang ketinggian ilmunya – dunia dan akhirat. Setelah mendengar khabar tentang warga Banjar ramai menetap di Sungai Manik, beliau berhijrah ke sini sebelum Jepun memerintah Malaya. Dialah yang banyak mengajar agama dan membetulkan akidah warga Banjar di Sungai Manik. Lantaran itu dia diberi gelaran Patuan Guru (Tuan Guru)

“Kalau sampai menagih perempuan, itu sudah benar-benar melampau” ujar Tuan Guru yang sudah mula rasa garigitan (geram).

“Tak ada lain melainkan parang bungkol lawannya si haram jadah ni,” bebel Tuan Guru yang sudah habang miar (merah padam) muka kerana marah.

Tuan Guru Haji Bakri membuat pakatan sulit dengan warga Banjar Bendang DO yang bersetuju untuk menentang komunis.

Sebagai permulaan, lapan orang bibinian (perempuan) berjaya dikumpulkan, tapi kemudiannya hanya lima orang yang setuju, itu pun setelah jenuh memujuk. Memang benar pun, siapa yang rigi (sudi) dijadikan hulun (hamba) sex kepada pengganas komunis yang tak tau bahasa tu.

“Bukan kami bodoh manjulung (menghulur) budas (bulat-bulat) warga yang masih sunti melainkan ada helah, untuk dibuat umpan sementara” Tuan Guru manahapi (memberi kepastian).

Tempoh yang diberikan PKM hanya tinggal tiga hari saja lagi. Warga Banjar papasingnya(masing-masing) sibuk mangilir (mengasah) parang bungkol yang beranika gelaran. Tajamnya si Kandal Larap boleh dijadikan pisau cukur untuk membotakkan kepala. Ketika itulah dapat dilihat pelbagai ilmu dan amalan orang Banjar. Ada yang berendam semalaman dalam perigi buruk, ada yang berwirid siang malam tanpa henti, mandi buluh dan bermacam lagi petua. Betapa tidak, perjuangan antara hidup dan mati bukan boleh diambil mudah.

Rumah Tuan Guru Hj Bakri bersebelahan surau Parit 8, malaran (boleh tahan) jugaganalnya (besarnya). Diperbuat dari kayu harat (baik) zaman British – kukuh dan padu. Dalam rumah itulah warga Banjar mengatur strategi untuk berdepan dengan pengganas komunis. Carirapan (berkilau-kilauan) mata parang bungkol pesaka padatuan (moyang) yang dibawa dari kampung halaman di negeri Banjar, dan kebanyakannya sudah pernah dibasahi darah tentera Belanda. Memang sudah terbukti kehebatan parang-parang tersebut ketika digunakan memerangi penjajah di Kalimantan dulu. Pada masa itulah taungkai(terkeluar) nama atau gelaran yang tak pernah didengar sebelumnya.

Ketika itu, Tuan Guru Haji Bakri tak ada anak lelaki dewasa di Sungai Manik, yang ada hanya seorang cucu lelaki yang masih remaja berusia awal 20an. Acil, nama cucu kesayangannya.Macalnya (nakalnya) boleh tahan juga, tak jauh bezanya dengan anak-anak hari ini. Marga (disebabkan) kenakalan itulah, Tuan Guru Haji Bakri segera menurunkan ilmu kepada cucunya. Maka semakin bertambahlah kejaguhan si teruna ini.

“Nah, buat genggaman mu,” Tuan Guru Haji Bakri menghulur parang bungkol si “Mandam Layu” kepada cucunya. Fuh, cantik sungguh; hulunya diukir dari akar haur (buluh) betung, rumbai perca kain merah di hujung menambah keampuhann bila dipandang. Apa lagi, lihum bapair (senyum meleret) si Utoh Acil menerimanya.

Ranai guraknyap (sunyi sepi) seluruh Bendang DO kerana setiap buah rumah telah dikosongkan, penghuninya berpindah ke ruamah Tuan Guru – markas warga Banjar di Parit 8.

“Mudah-mudahan kita semua dilindungi Allah…Allahuakbar” ujar Tuan Guru Haji Bakri ketika melepaskan warga Banjar memulakan gerak menghampiri markas PKM di muara Bendang DO tengah malam itu.

Pagi Sanayan (Isnin), dengan terbitnya matahari di ufuk timur, maka sampailah sudah saat dan ketikanya warga Banjar di Bendang DO membuat perhitungan dengan gerombolan haram jadah - tentera PKM.

Sasain (semakin) cariningan (bercahaya) wajah 8 orang perempuan Banjar yang sudahditatapi (disolek) dan dibingkingi (didandan). Fuh rasa tak dapat lagi mamadahakan(menceritakan), rambang mata sekiranya disuruh memilih tunggal ikungan (satu persatu).

Wajah perempuan yang mulanya takurisit katakutanan (kecut ketakutan) mula nampakhabang (merah), dan juga garang! Membara sungguh nampaknya kerana baru saja diminumkan air garangsang (jampi) Tuan Guru. Mudahlah nanti kalau tak ada yang lemah semangat atau lamah buluan (gementar) bila berdepan musuh. Atau kalau ada yang tak tahan melihat darah mangarabuak (membuak-buak) di medan pertempuran.

Mak ooii, kabubungasan (cantik sungguh) tiga orang anak dara ni…milik siapalah gerangan!

Emoh, Acil dan Sabran baru saja didandan manyalumur (menyamar) jadi bibinian(perempuan). Hebat juga hasil tatapan (solekan) warga perempuan Banjar di Bendang DO, mungkin juga boleh mengalahkan ‘mak nyah’ yang terkedek-kedek. Tapi mereka perlu berhati-hati jangan sampai terselak landau (betis), nanti kelihatan pula bulu kaki hirang(hitam) lebat…pecahlah tembelang.

Kira-kira jam 9.00 pagi, bajurut (berduyun-duyun) ‘perempuan’ Banjar tersebut berjalan sebaris meghala ke markas PKM di muara Bendang DO, didahului oleh Ali dan Amat Tuban sebagai wakil penyerahan. Mereka berdua ditangati (dilarang) membawa sebarang senjata. Tapi, orang Banjar tak kan sanggup meninggalkan senjata apatah lagi bila menghala ke medan juang. Lading balati (pisau belati) setajam pisau cukur sudah lama tersisip di pinggang masing-masing. Cuma baju saja yang membuatnya tak dapat dilihat dengan mata kasar.

Gerombolan komunis di markas Bendang DO terbahak-bahak ketawa, macam tak sabar lagimahadangi (menanti) lebih-lebih lagi tiga orang kepala komunis bernama Ah Boon, Ah Pau dan Ah Jang “Syok mau mali hooo….”

Asa lilihan (rasa gelihati) pun ada melihat tiga orang “anak dara” yang berjalan paling belakang kerana masing-masing bakalumbunan (berselubung) dengan tapih (kain). Umai(mak oi) panyupannya (pemalunya)…malu apa gerangan kalau tangan menggenggam erat hulu parang bungkol si “Kandal Larap”, si “Mandam Layu” dan si “Tungkih Kiwang”. Rasa kekok melangkah kerana tak biasa berjalan memakai kain bairitan (meleret labuh) begitu. Kesiannya…

Tuan Guru Hj Bakri yang tinggal seorang diri tidak bersuara lagi, tasbih di tangan langsung tak dilepaskan, berwirid kada sing mandakan (tanpa henti) di dalam surau. Kanak-kanak yang masih kecil pun tak berani menghampiri.

Jam 10, deretan “perempuan” tiba di hadapan markas PKM di muara Bendang DO. Lantas si Amat Tuban dan Ali menyerahkan mereka kepada ketua komunis.

Semakin kuat gelak ketawa mereka, gembira tak terperi ibarat bulan jatuh kaasuhan (ke riba). Tak disangka warga Banjar seluruh Bendang DO yang kononnya berani menentang Bintang Tiga hanya omong kosong. Riuh rendah markas dengan dialog Cina, mengumpat agaknya. Benar-benar celaka 13!

“Hei tepilah…lu sana” salah seorang kepala komunis mahingkau (menengking) sambil menolak kasar si Ali dan Amat Tuban. Tiga orang kepala komunis terus memeriksa dari depan ke belakang, menyelak salungkui (selubung) satu persatu. Rambang mata. Yang lainnya turut sama barumbung (berkerumun) tak ubah seperti macan (harimau) yang laparkan daging manusia. Akhirnya nyanyat (gian) hingga tak terjaga lagi markas taktikal.

Sampai kegiliran diyang (gelaran anak dara Banjar) bungas (cantik) yang kelima, si Ah Boon kepala komunis…

“Ai yaaa, manyak cantik lo ha…” jarigi (jari) mula hendak merayap kerana kapingin(teringin) benar manjapaie (menyentuh). Babaya (baru) hendak maragap (memeluk) untuk mencium…

“Bangsat, seteru babi haram jadahhh…Allahuakbarrr!!!” hingkau (tengking) si Emoh sing hangkuian (dengan kuat).

“Nah ambil habuan engkau sangkala.”

Labukkk….si Kandal Larap hinggap ke sasaran tanda patuh kepada tuannya. Mandabuk kepala si haram jadah jatuh ke tanah bercerai dengan badan, manggalaguak (membuak) darah dalam jantung membasahi bumi Sungai Manik. Acil menerkam si Ah Jang yang sedang tergamam.

Labukkk…mata parang si Mandam Layu hinggap, layu dan longlai leher si Ah Jang terkena libasan parang bungkol si Mandam Layu. Sebiji lagi kepala ketua komunis gugur ke bumi.

Bukkk…timpasan (tetakan) diayun oleh Sabran. Ternyata benar si Tungkih Kiwang tak pernah ingkar kepada tuannya – putus dua badan si Ah Pau. Tungkih Kiwang magun(masih) belum puas – memenggal puluhan gulo (leher) musuh. Pagat basadinan (putus serta merta), humbalingan (bergelimpangan) kepala komunis di halaman markas PKM Bintang Tiga.

Bubuhan (warga) Banjar Bendang DO yang sudah setengah malam basungkup(bersembunyi) dalam parit tak berair bingkas bak cendawan busut, manyasah (mengejar) anak buah Bintang Tiga yang sedang dalam kapipiyangan (kebingungan).

“Allahuakbarrr!!!” babaya (sebaik saja) taparak (menghampiri) musuh yang rahat (sedang)bakatumbahan (lintang pukang), mereka terus melibaskan parang. Belum sempat mengangkat senapang, tubuh mereka sudah dihinggapi parang bungkol. Fuh, macam menebang gadang (batang) pisang.

34 orang orang anggota PKM taampar (terdampar) di tangan Banjar Bendang DO. Darah merah membasahi bumi, mayat galing-galingan (bergelimpangan), senjata musuhhumbalingan (bertaburan). Mandakannya (mujurlah) tak seorang pun warga Banjar yang terkorban atau tercedera, cuma baju dan seluar mereka saja yang merah kacuratan (terkena percikan) darah musuh.

Bangsal komunis diselongkar. Ceh, yang ada cuma seguni beras dan perkakas memasak. Tanpa banyak bicara, Acil memikul guni beras untuk dibawa balik.

Namun, tak sepucuk pun senjata raifel MK5 yang hambur tauran (bertaburan) diambil. Tak teringin langsung, tak berkenan atau tak tau menggunakan makanya dibiarkan begitu saja.Mangararau (merah menyala) mandah (terbakar) markas kecil PKM di muara Bendang DOdisalukut (dibakar). Dengan itu berbalaslah sudah kematian arwah si Utoh Putih.

Berkubang sakan warga Banjar membersihkan awak (badan) dalam parit besar di hadapan rumah Tuan Guru Hj Bakri. “Sudahlah” hahalulung (terpekik terlolong) pakcik Sukri – yang tak turut serta dalam pertarungan – memanggil mereka naik.

Azan di surau menandakan masuknya waktu Zohor. Selepas meunaikan solat dan makan tengahari, para pejuang Banjar merebahkan badan kepenatan, memenuhi anjung, pelantar, serambi dan surau kecuali Acil, Emoh dan Sabran. Mereka bertiga menceritakan perlaksanaan rancangan yang sarabanya (serba serbinya) berjalan lancar.

Lihum bapair (meleret senyuman) Tuan Guru Haji Bakri mendengarnya.

Markas besar PKM di Sungai Tungko gempar (gigir) seperti (ilah) anak ayam kehilangan ibu. Kekalahan yang tidak diduga – tiga orang pegawai mereka terkorban – bak tikaman duri berbisa dalam sejarah perjuangan PKM di Hilir Perak. Sementara menanti (pahadangan)ketibaan pegawai lain, tak seorang pun anggota komunis yang berani menunjukkan muka di Bendang DO.

Lain pula kisahnya dengan warga Banjar yang berhimpun di rumah Tuan Guru. Lelaki dan perempuan sibuk (auran) menggunting kain bakal dibuat wafak Selindang Merah.

Tuan Guru Hj Bakri sudah mendapat firasat: pertumpahan darah di muara Bendang DO tak kan berakhir (tuntung) begitu saja.

Warga Banjara seluruh Sungai Manik harus membuat persediaan awal untuk menghadapai peperangan terbuka, dan mungkin berpanjangan. Peperangan seterusnya bukan saja tertumpu kepada penentangan terhadap PKM, tapi melibatkan sengketa kaum dan agama. Kalau sudah begitu kehendaknya, terpaksalah diteruskan juga. Alang-alang bermandi darah biarlah sampai ketitisan terakhir.

Mentang-mentang (mantangan) sudah dapat (taulihi) ketua baru yang datang dari pangkalan PKM di Sungai Galah, Tanjung Tualang, pengganas komunis di Sungai Tungko makin mengganas (mambala-bala) membalas dendam gamaknya. Setiap kampung berhampiran (bapaparakan) Sungai Tungko habis diganggu (diudaki), harta benda di ambil, anak dara dan isteri orang sudah tak berkira lagi. Siapa yang berani melawan alamat tersungkur (tajalungkup) jadi sasaran peluru raifel MK5. Anak kecil yang masih dalam buaian (dipukongan) pun turut jadi korban, tanpa rasa belas kasihan. Tak cukup dengan perlakuan begitu, surau pula hangus dibakar.

Pejuang kemerdekaan tahi palat lah kalau begini!

“Sampailah sudah saat dan ketikanya wahai wargaku semua, demi Allah dan Rasulnya, aku isytiharkan Fisabilullah…Allahuakbar!” suara Tuan Guru Haji Bakri bertakbir dengan lantang.

“Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!!!” warga Banjar menyahut seruan.

Setelah mendengar berita tentang tertewasnya gerombolan komunis di muara Bendang DO, keluarga Melayu yang menghuni perkampungan di pinggir Sungai Perak pula yang dijadikan mangsa PKM. Puluhan warga Melayu datang menemui Tuan Guru Hj Bakri meminta ilmu peperangan. Walaupun hanya diberi minum air jampi, itupun sudah cukup untuk meyakinkan orang Melayu yang berjanji untuk sama-sama menyerang PKM di Sungai Tungko.

Sementara itu, warga Banjar pula sebulat suara melantik Acil, cucu Tuan Guru sebagai Khalifah Fisabilullah – walaupun masih muda tapi ilmu sudah penuh di dada.

“Dengar, dengar semuanya, esok selepas Subuh kita bergerak menyerang markas si haram jadah di Sungai Tungko…Allahuakbar!!!” ujar si Acil memberi taklimat.

Hari masih lagi (magunai) kelam (tatarauan), selepas solat Subuh dan bersarapan (makanpupuluran) seadanya, warga Banjar yang bakal pergi menyerang markas PKM masing-masing menyarung pakaian serba putih, selindang merah melilit badan, tanjak (laung) di kepala juga berwarna merah, parang bungkol bergemerlapan. Waduh, melihat pakain begitu pun sudah boleh menimbulkan kegerunan, itu belum lagi berhadapan – meremang (mamburinjing) bulu roma. Sebaik saja selesai bacaan doa oleh Tuan Guru, mereka terus menuju Sungai Tungko.

Tak siapa dapat menduga, rupanya gerombolan PKM sudah sedia menanti ketibaan warga Banjar – seperti sudah dijanjikan. Laras raifel MK5 sedia tertatang, jari melekat di pemetik senapang, dan sebentar lagi bakal berterbanganlah peluru.

Di surau Parit 8, Tuan Guru Haji Bakri terus berzikir tanpa henti. Hanya Pakcik Sukri yang ulang alik ke rumah mengawasi anak isteri warga Banjar yang ditinggalkan demi Fisabilullah.

“Fisabilullah…Lailahaillallah…Allahuakbar!!!” jerit si Acil sebagai Khalifah perang memberi isyarat bermulanya peperangan.

“Lailahaillallah…” bergema suara warga Banjar berkalimah tanpa henti.

Selepas itu, kalingungan (bunyi peluru berterbangan), macam air hujan rancaknya peluru meninggalkan muncung (palumpong) senapang. Gerombolan PKM tercengang kahairanan kerana tak seorang pun warga Banjar yang dihinggapi peluru. Tanpa disedari, pejuang Banjar hanya sedepa (sajangkauan) di depan mata. Galabukan (ekspresi bunyi) mata parang bungkol menetak (manimpas) pantas (ancap), menghayun sekehendak hati. Senjata api yang dimegahkan (diungahakan) oleh komunis nyata tidak bermakna lagi. Akhirnya dibuat penangkis tetakan pejuang Banjar.

Si Kandal Larap dan adik beradik parang bungkol lainnya ketawa riang bermandikan darah. Cair (lanah) markas besar PKM Sungai Tungko dihancurkan (diaburakan) warga Banjar Bendang DO. Baju dan seluar masing-masing basah kuyup, hinggakan boleh diperah kerana dibasahi darah pengganas komunis.

“Allahuakbarrrr…” takbir si Acil khalifah parang bungkol meminta warga Banjar berhenti (bamandak). Bergelimpangan mayat, merah bumi Sungai Tungko dibasahi darah. Namun, lima orang ketua PKM terlepas lari (talapas bukahan) meninggalkan medan peperanagan.

Lari (bukah) bukan sebarang lari. PKM yang pendendam dan kental (kandal) dalam perjuangan tak akan membiarkan begitu saja.

Belum sampai seminggu selepas pertempuran di Sungai Tungko, berduyun-duyun (barara)ahli PKM datang dari setiap penjuru (pinjung) pos PKM di daerah Hilir Perak menghala ke Sungai Manik.

Pertemuan kali kedua lebih hebat lagi. Bukan setakat raifel MK5 saja yang mereka gunakan, bertimbun (batuyuk) Bren Gun dan berpeti-peti banyaknya bom tangan yang seperti buah jambu batu (karatukul). Namun, tak sedikit pun dapat melunturkan (manuhurakan)semangat juang warga Banjar Sungai Manik. Selain parang bungkol, kalimah “Lailahaillallah…Allahuakbar” itulah yang dipegang (dipingkuti) sebagai senjata utama warga kita.

Peperangan seterusnya tak dapat ditamatkan (dituntungakan) dalam sehari seperti sebelumnya. Sudah jadi syarat ilmu Tuan Guru Haji Bakri, walau musuh sedang mengamuk sekalipun, bila sampai masanya untuk berhenti, maka terpaksalah dihentikan…siapa yang berani melanggar syarat akan menerima padah.

Acil, khalifah parang bungkol Sungai Manik baru saja melaungkan kalimah “Allahuakbar” sebagai isyarat menghentikan peperangan untuk hari itu. Seperti biasa, para pejuang Sabilullah berkumpul untuk mengira dan mengenal-pasti setiap orang, manalah tahu kalau-kalau ada yang gugur, atau ada lagi yang masih meneruskan pertempuran.

Pernah terjadi seorang warga Banjar tak ada dalam perhimpunan. Melihat ketiadaan adiknya, si abang melanggar pantang larang dengan berpatah balik mengejar musuh dengan geram. Akhirnya abang dan adik hilang dan tak muncul lagi.

Sudah genap sebulan perang Sabil di Sungai Manik, tapi masih belum menampakkan tanda akan berakhir. Bertimbun, bergelimpangan mayat komunis namun mereka masih belum serik, malah semakin cekal. Kekuatan mereka bertambah saban hari, entah dari mana datangnya tak pula diketahui.

Dalam pada itu, gerombolan komunis di Seberang Sungai Perak makin mengganas, menyiksa dan membunuh orang Banjar dan Melayu di Kampung Gajah dan Balun Bidai. Orang Cina tidak pula diapa-apakan malah dijaga dengan baik. Begitu agaknya taktik kotor komunis untuk melemahkan semangat pejuang Sabilullah di Sungai Manik.

Sepanjang senja, di tepi rumah Tuan Guru Haji Bakri, riuh rendah murai (tinjau) berkicau tanpa henti.

“Kalau berita baik, bawalah kemari, kalau buruk jauhkanlah” begitulah selalunya kata-kata orang tua Banjar bila mendengar kicau murai diwaktu senja. Betapa ada kebenarannya. Selepas solat Isyak malam itu…

“Assalamualaikum!!!” kedengaran suara memberi salam di depan surau. Serentak jemaah menyambut salam. Setelah diamati (dijanaki)…bergegas (badadas) Tuan Guru turun ke tanah lalu memeluk sambil menepuk belakang oramg yang memberi salam.

“Selamat datang adikku” kata-kata aluan Tuan Guru membuat warga Banjar lainnya terpinga-pinga (tarangakan) kerana tak seorang pun yang kenal (pinandu).

Masmuda, adik (ading) Tuan Guru Hj Bakri baru saja tiba dari Batu Pahat. Si Acil terus menerkam datuk saudara (paninian mamarina) yang tidak kurang hebatnya. Ialah, kalau sudah sedarah sedaging, ke mana lagi tumpahnya ilmu.

Perang Sungai Manik sedang rancak, keadaan di Balun Bidai dan Kampung Gajah semakin genting. Saban hari gerombolan komunis mencari pasal.

“Tak boleh dibiarkan, semakin menjadi-jadi benar keganasan mereka” rungut Tuan Guru Hj Bakri bercampur marah.

Para pejuang Sabilullah sepakat melantik Masmuda sebagai Khalifah perang mengganti Acil di Sungai Manik. Tuan Guru Hj Bakri dan Acil pula akan turun ke Balun Bidai secepat mungkin.

Wafak Selindang Merah dibuat khusus untuk warga di seberang Sungai Perak. Salah seorang tukang tulis kalimah Allahuakbar Selindang Merah bernama Asmuni.

Hj Asmuni, tukang tulis kalimah Allahuakbar di Selendang Merah sedang memegang tongkat peninggalan arwah Tuan Guru Haji Bakri

Pertama kali Masmuda memimpin pejuang Sabilullah di Sungai Manik, ketara benar kehebatannya. Musuh melepaskan tembakan ke atas, peluru berterbangan seperti air hujan menerjah angin kosong (puang). Pada pandangan mereka, para pejuang Sabilullah semuanya tinggi, setinggi pohon getah maka itulah mereka asyik menghalakan tembakan ke atas. Ketika itulah para pejuang Sabilullah menyerbu, menebas, menetak dan memancung musuh. Baru sekejap, bersih (lingai) medan pertempuran.

Namun, antara musuh yang gugur di hujung parang bungkol pejuang Banjar, terdapat ramai yang menyebut kalimah Allah. Setelah diamati ternyata mereka adalah orang Melayu dan Banjar yang sudah terpedaya menyertai perjuangan komunis. Dalam pertempuran sukar untuk mengasingkan antara Banjar, Melayu dan Cina kerana mereka semuanya menyarung pakaian seragam Bintang Tiga.

Para pejuang PKM masih lagi berdegil, tak mengerti makna putus asa. Sambil menanti bantuan dari Sungai Karang seberang Teluk Anson, mereka meneruskan (manyalajurakan)perjuangan.

Mujurlah (madakannya) Allah tidak mengizinkan. Tongkang yang sarat membawa gerombolan PKM karam di tengah Sungai Perak, tak jauh dari Pulau Galagak dekat pelabuhan Teluk Anson.

Melambak gerombolan Cina komunis yang tak pandai berenang (bakunyung) tenggelam batu dan mati lemas. Manakala gerombolan komunis bangsa Melayu dan Banjar yang rata-ratanya pandai berenang terselamat dan sempat berenang ke Pulau Galagak. Kalau tidak, pastinya sesama Islam bakal bertempur di Sungai Manik. Sesungguhnya Allah lagi maha mengetahui.

Berita yang melemahkan perjuangan PKM – ranapnya pejuang mereka di Sungai Manik di tangan warga Banjar di bawah pimpinan Masmuda, panglima Selendang Merah Batu Pahat, Johor.

Dalam pada itu, ramai orang Melayu dan Banjar di Balun Bidai, Kampung Gajah dan kampung-kampung berhampiran memilih untuk lari ke dalam hutan meninggalkan rumah masing-masing kerana komunis semakin mengganas, menembak rumah membabi buta. Mengamuk kononya. Untuk apa melepaskan geram terhadap mereka yang tak tahu menahu!

Lain pula ceritanya dengan kaum Cina yang menghuni kawasan sekitar. Hampir semuanya menyokong perjuangan PKM, dan kerana itulah mereka tidak di ganggu.

Tuan Guru Haji Bakri, Acil dan Emoh selamat menyeberang Sungai Kinta dan sampai di Kampung Changkat, Bayas, Balun Bidai. Sungguh tak disangka rupanya warga Banjar di situ tak juga kurang keberanian mereka.

Acil pula dilantik sebagai Khalifah surau Changkat Bayas, markas pejuang Sabilullah di Balun Bidai. Selendang dan tanjak merah yang dibawa dari Sungai Manik diagih-agihkan sehelai seorang. Pun begitu, sekiranya ada yang memiliki ‘wafak’ sendiri, mereka dibenarkan memakainya. Begitulah cara orang Banjar – walau setinggi mana pun ilmu sendiri, namun ilmu orang lain tetap dihormati. Mencerca (mawada) menghina (mahapak) kebolehan orang lain bukan Banjar namanya.

Siang malam kedengaran bunyi tembakan di pinggir Balun Bidai, entah apa yang mereka tembak tidak pula diketahui. Membunuh dan menyiksa orang, itu sajalah kerja mereka. Setengahnya bertujuan menakutkan – konon komunis masih lagi kuat walaupun sudah tewas di Sungai Manik. Hii, geram betul.

Pada mulanya hampir tujuh puluh orang warga Banjar yang sanggup turut serta sebagai pejuang Sabilullah. Yang penakut (pamburisit) dibenarkan tinggal mengawasi anak isteri mereka yang bakal pergi menyerang markas PKM di tebing Balun Bidai. Tuan Guru Haji Bakri tetap seperti biasa – bersendirian berzikir dan membaca ayat-ayat di surau. Sampai saat dan ketikanya, pergilah para pejuang menuju sarang komunis di tebing Balun Bidai.

Lailahaillallah…Allahuakbar!!!” maka bermulalah perang sabil di daerah Kampung Gajah, Perak.

Khalifah Acil yang masih muda sudah berbulan menentang musuh di Sungai Manik. Boleh dikatakan setiap kali pergi berjuang, darah musuh sampai kering di badan. Medan pertempuran dibuatnya seperti padang permainan. Degil, menari (baigal) menahan tembakan komunis membuat musuh semakin geram. Ditembak tak langsung memberi bekas.

Musuh semakin menghampiri para pejuang Sabilullah.

“Timpasss!!!” (tetak) ujar si Acil berteriak. Apa lagi, parang bungkol terus mandi darah.

Peperangan di Balun Bidai melahirkan seorang lagi wira Banjar bernama Mawi, pemilik parang bungkol bergelar si Kajang Rungkup. Kalau berhadapan musuh, dia tidak teragak-agak untuk menerkam (marungkup) dan menyembelih, seperti menyembelih leher lembu. Yang menghairankan, musuh yang sudah kena terkam langsung jadi lemah tak bermaya untuk melawan. Itulah keajaiban parang bungkol si Kajang Rungkup.

Setelah berakhir perang di Balun Bidai, Acil diberi gelaran “Acil Wani” (Acil Berani). Sebut saja nama Acil, seluruh warga Banjar kenal padanya.

Bela (haragu) bukan sebarang bela, bela ada muslihat (sipatan). Warga Cina yang ramai bermastautin disetiap pelosok Kampung Gajah sudah mula mencebik (kulibian) bila bertemu orang Melayu.

“Wahai kaumku, perang sabil saja diolah (dipiulah) oleh orang Melayu yang banyak menjurus kepada perkauman. Mereka merancang untuk menghapuskan bangsa Cina seluruh Tanah Melayu, itulah tujuan sebenarnya. Tergamakkah (purunkah) tuan-tuan membiarkan bangsa sendiri hancur lebur dipijak-pijak (dilincai) orang Melayu? Tentunya kalian tak sanggup. Nah apa lagi yang ditunggu, jom kita bersatu, kita tentang sampai ketitisan darah terakhir!”begitulah bunyinya kempen PKM setiap kali bertemu orang Cina di Kampung Gajah. Mereka yang sudah rasa terhutang budi kerana selama ini dilindungi, dijaga sebaiknya oleh PKM akhirnya bersetuju berjuang demi bangsa dan agama mereka.

Orang Cina tak dapat melihat muslihat disebalik kemanisan kata-kata PKM – memperbodoh (mawalohi) orang Cina untuk kepentingan sendiri dengan melagakan (menyaung) Cina dan Melayu. Betapa tidak, sudah banyak pengganas komunis kecundang di tangan pejuang Banjar.

Orang Cina mula menghimpunkan serba serbi (sarabanya) keperluan – parang besar, parang bengkok, kayu pengandar tempinis seadanya dengan tujuan untuk berperang. Sekiranya terserempak dengan orang Melayu, tak kira kecil atau besar bakal habislah mereka kerjakan.

Pertemuan secara berdepan antara pejuang Sabilullah dengan orang Cina dan pengganas komunis di pinggir Kampung Sungai Galah tak kurang jua sengitnya dibandingkan dengan yang sebelumnya. Lenguh (katuran) tangan warga Banjar kerana terlalu pantas (ancap)mengayun (mailai) parang bungkol. Baju dan seluar basah kuyup (jimus) dengan darah. Mayat musuh bergelimpangan di sana sini, namun jumlah mereka masih belum berkurangan (rawak), malah semakin ramai (manjarau).

“Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!!!” jerit si Acil tiga kali sebagai isyarat supaya berundur seketika untuk menghilangkan penat dan membuat strategi lain. Melihat pejuang Sabilullah mula berundur, warga Cina riuh mangajuk (mauyati) zikir Lailahailallah.

“Lailahailalit…Malayu kasi habit!!!” mereka merasakan sudah beroleh kemenangan.

Mendengar zikir dipermainkan, Mawi si Kajang Rungkup hilang sabar. Serta merta dia berpatah balik mengejar musuh. Sayang, hajatnya untuk menerkam tak kesampaian. Bertalu-talu peluru Bren Gun komunis hinggap ke badan. Huyung hayang (tajumpipir) Mawi lalu rebah.

“Habislah Mawi!!!” semua warga Banjar yang melihat terasa sedih.

Tak sampai 10 minit berselang, Mawi yang bergolek kesakitan (bapangsar) di atas tanah bingkas bangun.

“Mati aku, mati aku, mati aku!” ujar Mawi yang berlari anak (bukah maanak) balik ke kumpulan, sambil mengibas (bakipuh) membuang peluru yang sudah leper yang melekat (marikit) penuh (papak) seluruh badan. Mawi yang disangka sudah mati rupanya masih (magunai) hidup.

“Bah rasa berbahang (mambarangat) Cil ai…hampir (manggisit) terbakar (mandah) aku abang (kakak) Emoh ai!” ujar Mawi mengadu. Khalifah Acil ketawa terbahak-bahak, tak dapat menahan kelucuan teringat karenah Mawi.

Senyum meleret (lihum bapair) si Emoh sambil mengipas Mawi yang sedang kepanasan, tapi masih lagi boleh bergurau (bahuhulut). Begitulah karenah orang Banjar.

Mawi, kalau belum sampai ajal sememangnya kebal. Bukan sekali dua dia bakipuh begini.

Masa bertugas sebagai Home Guard mengiringi tuan lombong orang Inggeris Changkat Tin, dia pernah diserang hendap oleh Bintang Tiga ketika sedang menaiki Loko (keretapi kecil pengangkut bijih timah). Terpandang tuan orang Inggeris yang sudah mati terkena tembakan, Mawi melepaskan raifel di tangan lalu mengejar komunis dengan parang bungkol. 5 orang pengganas maut (jingkar) ditetak dengan Kajang Rungkup. Entahlah, adakah anak-anaknya yang mewarisi ilmu si bapa!

Hari semakin lewat (landung), para pejuang Sabilullah terpaksa meninggalkan medan perjuangan kerana masa dan ketika untuk berhenti sudah pun tiba. Musuh masih riuh berteriak (karahongan) mengajak berlawan tanda tak puas hati, tapi setelah tak dilayan, mereka pun senyap. Mawi yang masih sakit seluruh badan (ringkutan saawakan) ditandu balik.

Sementara itu, orang Melayu dari Kampung Gajah berduyun-duyun datang menemui Tuan Guru Haji Bakri di surau Changkat Bayas. Tak sampai sepuluh orang yang sempat (sawat)memperoleh selendang merah kerana itu sajalah baki yang ada. Walau bagaimana pun, semuanya diberi minum air perangsang (banyu garangsang) dan diberi amanat – kalau boleh, hapuskan saki baki dan zuriat komunis di Kampung Gajah.

Memang menjadi, tak sia-sia pemberian Tuan Guru. Tak sempat menunggu esok sudah riuh dan gempar orang Melayu menyerang orang Cina di Kampung Gajah. Di mana saja terdapat kediaman mereka, habis dimusnahkan.

Orang Melayu di Kampung Gajah sudah jadi berani setelah menuntut ilmu orang Banjar – angkara Ali Amin yang memperdagangkan ilmu kepada orang Melayu.

Ali Amin…..kerana tak mahu bekerja seperti orang lain, bila tak berduit, ilmu dijualnya. Hampir tercetus pergaduhan dimarahi Acil dan Emoh. Oleh kerana malu, akhirnya dia meninggalkan Balun Bidai, dan terus hilang tanpa berita.

Sudah tiga hari para pejuang Sabilullah merehatkan badan. Esok pagi bakal bermula perjuangan baru – menyerang musuh di pinggir Kampung Sungai Galah. Menurut firasat Tuan Guru Hj Bakri, peperangan esok mungkin yang terakhir. Para pejuang memujuk Mawi supaya jangan turut serta kerana masih belum sihat sepenuhnya. Tapi orang yang keras hati sepertinya tak makan pujuk.

“Kenapa gerangan, penakut benarkah aku ni?” ujarnya dengan nada marah.

Sepetang suntuk Mawi bersilat memantapkan langkah 12 (seni silat orang Banjar), dengan tujuan untuk menerkam bersungguh-sungguh agaknya. Serba salah (saraba ngalih), kalau ditinggal, mau saja menonong (mangunyur) mengikuti dari belakang (manunti) seorang diri. Selepas dibenarkan (diinggihakan) barulah dia senyap (ranai).

Zikir Lailahaillallah tak berhenti-henti, musuh yang sudah bersedia menanti begitu ramai.

“Fisabilullah Allahuakbar!!!” laung Khalifah Acil sambil berlari di hadapan menghampiri musuh. Kelentungan (kalintingan) senjata berlaga. Orang Cina pun apa kurangnya – bermacam kebolehan dan kemahiran dipamer dalam perjuangan penentuan antara hidup dan mati.

Sedang rancak bertarung, orang Cina terpinga-pinga kerana dengan tiba-tiba kelibat orang Banjar sudah tidak kelihatan. Pengganas komunis yang bijak bersembunyi di merata penjuru mula keluar dari tempat persembunyian untuk mengejar dan mencari pejuang-pejuang Banjar. Hilai ketawa mereka membayangkan seperti sudah mencapai kemenangan.

Namun, kegembiraan mereka cuma sementara. Sungguh tak disangka, tiba-tiba parang bungkol berterbangan sendirian macam air hujan menetak (manimpas), melibas (merawis) dan menikam (manyuduk) hingga tak dapat dielak. Banjir (baah)Kampung Sungai Galah dengan darah. Lintang pukang pengganas komunis lari menghala ke hutan Tambun. Tak boleh ditunggu (kada magan di hadang) lagi kerana lailahailait Cina sudah potong habit.

Bagaimana (dimapang) parang boleh terbang sendiri kalau tak ada kudrat dan iradat yang mengarahkan. Sebenarnya orang Banjar jua yang bersungguh-sungguh (bahimat) menetak(manimpasi), cumanya mereka tidak kelihatan kerana sudah berada di alimul (alam) ghaib.

Keberanian orang Banjar turut menaikkan semangat orang Melayu di merata tempat. Perkampungan Cina di sepanjang Sungai Perak dan Chenderong Balai ranap dibakar dik dendam orang Melayu yang sudah lama menderita ditindas komunis. Selepas itu barulah tentera upahan British bangsa Punjab tiba untuk mengamankan Sungai Manik dan Kampung Gajah.

Sejak itu, tidak ada lagi orang Cina di Kampung Gajah. Saki baki pengganas komunis yang masih hidup lari ke dalam hutan.

Tuan Guru Haji Bakri, 57 tahun kembali ke Rahmatullah di Mekah tanggal 26 September 1950. Jasadnya disemadikan di Perkuburan Ma’ala, Mekah.

Wallahua'lam
*Respect

Che'gu Rosman

Dajjal

yang baik jadikan teladan.

Dajjal...
Malam tu, macam biasa, aku akan habiskan beberapa helaian bacaan aku sebelum lelapkan mata.
Sambil anak aku kat tengah diantara aku dan isteri aku sibuk beraksi menyusu. Kejap meniarap, kejap menonggeng, kejap punggung dia tindih muka aku. Tu rutin dia sebelum tidur.
" Dajjal tu dah ada ker awak? Dia dah keluar ker?", tiba2 isteri aku bertanya.
" Dah ada dah. Cuma mungkin ada yang tak perasan," jawabku ringkas sambil menutup buku dan mengalihkan kaki anak aku yg dari tadi terletak atas leher aku. Tidur jugak akhirnya.
" Dah ada? Kat mana?," tanya isteriku sambil berpaling mengadapku.
" Media. Segala jenis media. Itulah dajjal. Media cetak, media massa, media hiburan, media internet, dan segala mak nenek media adalah dajjal, " jawabku sambil melipatkan kedua tangan kebelakang kepala aku dan memandang tepat pada siling rumah.
" Aikk? Media?? Nape pulak?," tanya isteriku lagi.
Kali ini dia kelihatan begitu serius sekali. Sambil sebelah tangannya dijadikan penyendal kepalanya dan merenung tepat pada aku.
" Ini menurut pembacaan dan pandangan peribadi sayalah. Sebab jika dajjal muncul dalam bentuk raksaksa yang menakutkan, mesti tiada orang nak ikut dia. Jadi dajjal akan muncul ikut kesesuaian fitrah manusia. Barulah manusia percaya dan ikut dia ," jelasku sambil merenung siling dan fikiranku mengimbas kembali kepada beberapa bacaan aku berkenaan Dajjal.
" Oooo.... Betul jugak naaa.. Lagi2.. Ceritalah dajjal ni," ujar isteriku dalam loghat Penang yg takkan hilang dari lidahnya.
" Antara sifat dajjal, bermata satu. Pada pemahaman saya ianya adalah kamera. Segala kamera itu mewakili penglihatan dajjal. Samada kamera telefon, kamera perakam, cctv dan semua jenis kamera. Dari mata dajjal itu tersebar pelbagai fitnah dan kebencian. Kemudian manusia menjadi huru hara , bergaduh, berbunuh dan berperang. Sebab satu maklumat daru kamera, manusia percaya. Walhal maklumat itu tipu. Kemudian sifat dajjal itu mampu menyeberangi dari satu negara ke satu negara dengan sekejap sahaja. Merentas benua dgn benua juga mudah. Lautan berada dibawahnya, sebenarnya itu adalah gelombang internet. Dengan internet, fitnah dan kebencian mudah dihantar. Maka manusia mudah dihasut dan percaya. Perkara yang benar, nampak salah, perkara yg salah, nampak betul.Lihat sahaja media television, jual produk contohnya syampu rambut. Boleh lurus, tapi hkikatnya itu tipu. Lihat sahaja iklan susu formula dari 123456 tahun, semua orang percaya. Kemudian ikut. Walhal Al quran perintah susu ibu cuma 2 tahun diorg tak nak ikut. Itulah antara fitnah dajjal," jelasku panjang lebar sambil mengadap pada isteriku.
" Ya Allah... Takutnya..," tiba2 isteri aku berbisik.
" Kena ingat, tujuan dajjal menyesatkan umat Islam. Tujuan dajjal mengawal otak dan pemikiran manusia. Segala benda baik, jika dajjal kata buruk, maka manusia percaya. Segala benda buruk, jika dajjal kata baik, semua manusia percaya. ", jelasku lagi.
" So kenapa ada berpendapat baca surah Al kahfi dapat lepas fitnah dajjal?", tanya isteriku lagi.
" Sayang, Al quran itu bukan sekadar dibaca. Bukan sekadar dihafal. Paling penting difahami kemudian diamal. Kalau tak faham macam mana nak amal? Kalau baca sekadar baca, nasrani dan yahudi juga membaca kitab suci agama mereka. Apa antar kisah dalam surah Al kahfi yg saya selalu cerita pada awak?," ujarku.
" Kisah pemuda Ashabul kahfi dan seekor anjing lari tidur dalam gua selama ratusan tahun sebab lari dari pemerintah zalim ," jawab isteriku sambil tersenyum kerana berjaya menjawab soalanku.
" Betul. Konteks cerita itu sama seperti dajjal. Pemuda dan anjing itu pada masa itu tiada pilihan. Selain mengasingkan diri dari masyarakat yang kian rosak. Dan penguasa yg zalim. Jadi, kalau nak selamat dari fitnah dajjal, kita jangan suka buat sesuatu perkara sebab ramai orang buat. Walhal kita tak memahami kenapa perkara itu dibuat. Buat sebab kita faham. Bukan ikut ikutan. Dan orang yg selamat dari fitnah dajjal adalah golongan yg ' ganjil '. Mereka hidup tidak mengharapkan sistem ciptaan manusia sangat. Mereka hidup berpandukan pemahaman Al quran dan sirah nabi s.a.w. Merekalah golongan yg beli kereta cash, tidak terlibat riba'. Tidak terpengaruh dengan media dan leka dengan dunia. Senang kata mereka ni kalau orang sekarang nampak mereka gelar kelompok ni kolot, selekeh. Walhal merekalah yg jauh dari fitnah dajjal. Mereka bukan golongan terasing, tapi golongan yg memilih untuk mengasingkan diri dari dunia yg rosak, " jawabku lagi sambil mencium anakku berkali kali yg sedang lena diulit mimpi.
" Patutlah awak tak nak astro kat rumah ni ea? Oklah syg, skrg sy faham. Kita tak payah astro k? ," ujar isteriku sambil bingkas duduk dan tersenyum.
" Kiamat tu berlaku sehingga ibu pun akan membuang dan tidak pedulikkan anaknya, dan sy dah nampak zaman skrg banyak ibu yg sibuk bekerja dan sibuk main handphone sampai anak terbiar, kiamat sudah dekat sayang.... Sy akan buat apa sahaja yg saya mampu untuk lindungi keluarga saya. Sebab tu ada riwayat sebut, ikatlah anak bini kamu pabila dajjal muncul. Dan skrg sy tgh ikatlah ni. Hehe... Ikat hati dan pemikiran. Bukan ikat jasad.., ' jelasku sambil mula menarik selimut.
" Imam mahadi pulak? Ceritalah... Awak asyik mengadap buku jer, tapi tak cerita pun kat saya ," ujar isteriku sambil mula membetulkan posisi badannya.
" Nanti saya ceritakan. Kiamat dan kemunculan dajjal akan berlaku dalam konteks akal manusia boleh terima. Bukan dalam keadaan yg ganjil. Masa sudah semakin suntuk. Ummat islam sudah tidak punya banyak masa, sebab tu yahudi banyak menguasai teknologi. Sebab tentera dajjal adalah yahudi. Imam mahadi juga sudah ada. Dia hanya belum membuat pengumuman rasmi. Selagi anak muda islam masih leka begini, selagi itulah islam dibuli. Tidurlah. Doa supaya semuanya selamat. Kerana Allah kekal ada. Sy mintak maaf yer kalau arini ada buat silap. Assalamualaikum, " ujarku sambil meminta maaf, risau2 esok tak bangun subuh hari.
" Waalaikumsalam sayang, sy pun minta maaf. Sy harap harini sy jadi isteri yg memberi manfaat untuk anak dan suami. Nite sayang...," jawab isteriku sambil memejamkan mata.
~ Hannah, saat cerita ini ditulis . Saat ini hati mama dan ba selalu risau. Adakah Hannah akan membesar melihat Islam sebagai agama menyelamat umat manusia, sebagaimana waktu islam mula2 sampai, atau adakah waktu itu Islam masih jadi agama dagangan beberapa kelompok kapitalis agama? ~
Islam agama yg bermulanya nampak ganjil, maka pengakhirannya sebelum kiamat juga akan nampak ganjil. Beruntunglah orang2 ganjil.
Sollua'lannabiii...