Isnin, 5 Disember 2016

الله مها عادل

Kalam Ulama':
KISAH NABI MUSA INGIN MELIHAT KEADILAN ALLAH

Pada suatu hari Kalimullah, Nabi Musa AS bermunajat kepada ALLAH SWT di bukit Tursina. Beliau memohon kepada ALLAH, "Ya, ALLAH tunjukkanlah keadilan-MU kepadaku."

Maka ALLAH menjawab permohonan Nabi Musa AS, "Jika Aku menampakkan keadilan-KU kepadamu, engkau tak akan dapat bersabar, dan tergesa-gesa menyalahkanku."

"Dengan taufik-MU." kata Musa, "Aku akan dapat bersabar menerima dan menyaksikan keadilan-MU."

ALLAH SWT menjawab, "Kalau begitu, pergilah engkau ke perigi itu". Bersembunyilah engkau di dekatnya dan saksikan apa yang akan terjadi." Maka Nabi Musa pun segera menuju tempat mata air yang ditunjukkan oleh ALLAH SWT, segera beliau bersembunyi di atas pokok yang berdekatan dengannya.

Beberapa waktu kemudian datanglah seorang penunggang kuda. Dia turun dari kudanya, lalu berwudhu dan meminum airnya. Setelah itu ia solat dan meletakkan kantong di sisinya yang berisi wang seribu dinar.

Setelah selesai solat, penunggang kuda tadi segera pergi dengan terburu-buru sehingga terlupa kantong wangnya tertinggal. Tidak lama kemudian datang seorang anak kecil yang ingin meminum di perigi itu. Dia melihat sebuah kantong ditempat itu, dia mengambilnya, setelah itu segera pergi dari tempat tersebut.

Setelah anak kecil tadi berangkat, datanglah seorang tua yang buta, dia meminum dan kemudian berwudhu, lalu solat.
Beberapa saat kemudian datanglah penunggang kuda yang ketinggalan kantongnya tadi. Dia menemukan seorang tua yang sedang berada tempat itu.

Si penunggang kuda berkata, "kamu pasti mengambil wangku yang tertinggal di sini." Betapa terkejutnya bukan kepalang si tua yang buta itu, dia berkata, "Bagaimana aku dapat mengambil kantung wangmu sementara mataku tidak dapat melihat."
Penunggang kuda berkata, "kamu jangan berdusta, tidak ada lagi orang selain kamu di sini."

Si tua menjawab, "Betul, saya memang disini tapi tidakkah kamu nampak yang mataku tak dapat melihat." Si penunggang kuda itupun berkata, "Mengambil kantong tidak semestinya dengan mata ! Tetapi dengan tangan! Tanganmu boleh mengambil kantongku.Kembalikan!!"

Akhirnya sipenunggang kuda tidak sabar sehingga segera membunuh orang tua buta itu. Setelah itu, dia segera menggeledahnya, tetapi kantong yang berisi wang tidak ditemukan. Maka dia segera pergi meninggalkan mayat si tua tadi.

Ketika Nabi Musa melihat peristiwa yg baru saja terjadi, beliau berkata, "Ya Tuhan, aku tidak sabar akan kejadian ini. Namun, aku yakin Engkau sangat adil. Kenapa engkau melakukan yang sedemikian ?"

Tidak lama kemudian, datanglah Jibril AS, dan berkata, "ALLAH memerintahkanku untuk menyampaikan penjelasan-NYA kepadamu. DIA menyebutkan bahwa diri-NYA maha mengetahui hal-hal ghaib yang engkau tidak ketahui. DIA menyebutkan bahwa anak kecil yang mengambil kantong milik si penunggang kuda itu sebenarnya sedang mengambil haknya semula."

"Pada waktu dulu, ayah anak kecil itu bekerja pada si penunggang kuda itu. Namun secara zalim ayah anak tadi tidak dibayar atas pekerjaan yang dilakukannya. Jumlah yang harus dibayarkan kepada ayah anak itu adalah sejumlah wang yang ada dalam kantong tersebut. Adapun orang tua buta yang mati dibunuh tadi adalah orang yang telah membunuh ayah anak kecil itu dulunya, sebelum si tua itu mengalami kebutaan."

Demikianlah. Sungguh Maha Besar ALLAH SWT yang telah berfirman, "Tidakkah kamu perhatikan bahwa ALLAH mengetahui apa yang ada di langit dan bumi? Tiada pembicaraan rahsia antara tiga orang melainkan DIA lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan DIA lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih ramai melainkan DIA berada bersama mereka dimanapun mereka berada. Kemudian DIA akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui Segala Sesuatu." (QS Almujadalah: 7).

"DIA lah ALLAH, Yang tiada Tuhan selain DIA, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. DIA lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hasyr: 22).

- Ustaz Iqbal Zain Al Jauhari

Tiada ulasan:

Catat Ulasan