Sunday, 10 May 2015

6 sifat

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين و على آله وصحبه اجمعين. أما بعد:

TAZKIRAH HARI INI UNTUK RENUNGAN BERSAMA.  
(Shah Alam, Ahad 10 Mei 2015).

6 SIFAT UTAMA MUKMIN YANG MEMUDAHKAN JALAN MENUJU SYURGA ALLAH SWT.

Semua manusia menginginkan masuk ke dalam Syurga, siapa diantara kita yang tidak ingin masuk ke dalamnya? Allah SWT memberikan berbagai kenikmatan di dalamnya.

Allah SWT berfirman Surah Qaf, ayat 35:

لَهُم مَّا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

Ertinya:
“(Penduduk surga) mereka, akan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan di dalam syurga. Dan di sisi Kami ada tambahan kenikmatan” (QS. Qaaf : 35).

Allah SWT juga berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang nermaksud:

“Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia” (HR. Bukhari).

Jalan menuju syurga Allah SWT tidaklah mudah. Ianya memerlukan perjuangan yang bersungguh-sungguh untuk dapat istiqomah dalam menempuhi jalan menuju syurga.

Dari ‘Ubadah bin Shamit  RA. Nabi  SAW bersabda:

“Berikan jaminan padaku dengan enam perkara dari diri kalian, akan aku jamin surga untuk kalian :
(1) Jujurlah jika berbicara
(2) penuhilah jika kalian berjanji
(3) tunaikanlah jika kalian diberi amanah
(4) jagalah kemaluan kalian
(5) tundukkan pandangan kalian
(6) tahanlah tangan kalian” (HR. Ahmad & Hakim).

Dalam hadits di atas, Nabi SAW menybutkan 6 sifat mukmin yang akan menjamin seseorang masuk syurga. Semoga Allah memudahkan kita untuk memiliki keenam sifat tersebut. Iaitu:

1. KEJUJURAN.

Kejujuran adalah sebuah akhlak yang sangat mulia. Rasulullah SAW bersabda:

“Kalian wajib untuk jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga” (HR. Muslim).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Kejujuran adalah jalan yang lurus dimana orang yang tidak menempuh jalan tersebut, dia akan celaka dan binasa. Dengan kejujuran inilah, akan terbedakan siapakah yang munafik dan siapakah orang yang beriman, dan siapakah yang termasuk penduduk surga dan siapakah yang termasuk penduduk neraka” (Kitab Madaarijus Salikin, 2/ 257).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dari bahaya dusta. Beliau bersabda:

“Hati-hatilah kita dari sifat dusta. Sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada maksiat, dan maksiat akan mengantarkan kepada neraka” (HR. Muslim).

Termasuk perbuatan dusta yang sering diremehkan orang adalah berdusta dengan tujuan melawak.

Nabi SAW bersabda:

“Celakalah orang yang berdusta dalam berbicara supaya orang lain tertawa. Celaka dia! Celaka dia!” (HR. Abu Dawud).

Oleh karena itu, mari kita biasakan untuk jujur, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jujurlah ketika bicara, ketika ujian, ketika berjualan, ketika bekerja, ketika mengisi data untuk keperluan tertentu, dan lainnya.

2. MENEPATI JANJI.

Memenuhi janji adalah diantara sifat seorang mukmin. Adapun tidak memenuhi janji adalah diantara sifat munafik.

Rasulullah SAW bersabda bahawa bermaksud:

“Tanda orang munafik ada tiga : Jika berkata maka berdusta, jika diberi amanah maka berkhianat, dan jika berjanji maka melanggar” (HR. Bukhari dan Muslim).

Diantara bentuk tidak memenuhi janji adalah terlambat mengembalikan barang pinjaman atau membayar hutang padahal sudah dijanjikan waktu pengembaliannya, terlambat memenuhi waktu perjanjian yang mana waktunya telah disepakati, dan lainnya. (Kitab Akhlak-akhlak Buruk karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, hal. 52-56).

3. MENJAGA AMANAH.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa, ayat 58:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا.

Ertinya:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya” (QS. An Nisaa : 58).

Syaikh Ibnu ‘Utsaiminrahimahullah mengatakan:

“Amanah itu luas pembahasannya. Dan pada intinya, amanah ada pada dua hal:

Pertama: Amanah yang berkaitan dengan hak-hak Allah SWT, yakni amanah yang di pikul seorang hamba untuk beribadah kepada Allah SWT seperti solat, puasa,  zakat dan lain-lain.

Kedua: amanah yang berkaitan dengan hak manusia,  amanah seorang pemimpin kepada rakyat,  (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/463).

Maka, beribadah kepada Allah SWT juga merupakan amanah yang harus ditunaikan seorang hamba. Amanah tersebut berkaitan dengan hak Allah SWT.

Adapun amanah yang berkaitan dengan hak manusia contohnya adalah para pemimpin dan pemegang kekuasaan yang di beri amanah untuk memimpin rakyatnya tapi pada kenyataannya banyak melakukan penipuan dan kezaliman kepada rakyatnya.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga mengatakan, “Menunaikan amanah adalah tanda-tanda keimanan seseorang. Jika engkau menjumpai seseorang yang memegang amanahnya, menunaikannya dengan sebaik-baiknya, maka ketahuilah dia adalah orang yang kuat imannya.

Sebaliknya, jika engkau mengetahui bahwa dia berkhianat, ketahuilah bahwa dia orang yang lemah imannya”. (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/464).

4. MENJAGA HARGA DIRI (KEMALUANNYA).

Di dalam Al Qur’an, Allah SWT telah menerangkan bahwa diantara sifat seorang mukmin yang beruntung adalah orang yang menjaga kemaluannya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mumenuun, ayat 5-7:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُون ( 5) إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِين (6) فمنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُون ( 7َ).

Ertinya:
“(5)dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,(6) kecuali kepada istri-istri atau budak-budak mereka, maka mereka itu tidak tercela. (7) Adapun orang-orang yang mencari selain itu, mereka adalah orang yang melampaui batas”(QS. Al Mu’minuun : 5-7).

Mukmin yang beruntung adalah yang menjaga kemaluannya. Adapun orang yang tidak menjaganya dengan melakukan perbuatan  zina atau perbuatan yang menghampiri zina, maka dia adalah orang yang melampaui batas.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra, ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Ertinya:
“Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra' : 32).

Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak tahu ada dosa yang paling besar setelah membunuh selain zina” ( Kitab Al Jawaabul Kaafi, hal. 162).

Sesungguhnya dibalik kenikmatan sementara dari perbuatan zina terdapat kepedihan dan kesengsaraan yang berpanjangan di akhirat nanti.

5. MENUNDUKKAN PANDANGAN.

Allah SWT berfirman dalam al-Qur'an Surah An-Nuur, ayat 30:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Ertinya:
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluan mereka. Sesungguhnya itu lebih suci bagi mereka”. (QS. An Nuur : 30).

Ibnul Qayyim mengatakan:

“Pandangan adalah penunjuk jalan serta utusan syahwat. Menjaga pandangan adalah modal pokok untuk menjaga kemaluan. Siapa yang tidak menjaga pandangannya, dia telah menempatkan dirinya ke jurang kehancuran” (Kitab Al Jawaabul Kaafi, hal. 216).

Oleh karena itu, menjaga kemaluan tergantung kepada menjaga pandangan. Orang yang mampu menjaga pandangannya, akan mampu menjaga kemaluannya dengan izin Allah SWT.

Maka jagalah pandangan dari lawan jenis. 6ang akan mendatangkan nafsu syahwat.  Orang yang mampu menjaga pandangannya, Allah SWT akan menerangi hatinya dengan cahaya.

Ibnul Qayyim mengatakan:

“Menundukkan pandangan akan memberikan cahaya dan kemuliaan kepada hati yang akan nampak pengaruhnya pada mata, wajah, dan anggota tubuh lainnya sebagaimana melepaskan pandangan akan memberikan kegelapan kepada hati yang akan nampak pengaruhnya pada wajah dan anggota tubuh lainnya” (Kitab Raudhatul Muhibbin, hal. 73).

6. MENJAGA TANGAN DARI MEYAKITI ORANG LAIN.

Allah SWT berfirman Surah Al-Ahzab, ayat 58:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Ertinya:
“Dan orang-orang yang menyakiti laki-laki dan wanita yang beriman tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh mereka telah menanggung kedustaan dan dosa yang nyata” (QS. Al-Ahzab : 58).

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang muslim yang baik adalah seseorang Muslim yang selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang muslim yang baik adalah orang yang tidak menganggu saudaranya, temannya, mahupun jiran tetangganya. Mereka merasa aman dengan kehadiran dirinya.

Adapun orang yang suka mengganggu atau menyakiti orang lain, baik dengan lisan maupun tangannya, maka dia bukanlah seorang muslim yang sejati.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap muslim itu bersaudara. Maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustakannya, ataupun menghinanya. (Lalu beliau bersabda) Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat keburukan jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram (untuk diganggu)” (HR. Muslim).

itulah enam sifat seorang mukmin yang dijamin oleh Rasulullah SAW untuk dapat masuk ke dalam syurga Allah SWT.

Kita memohon kepada Allah SWT agar memberikan kita taufik-Nya serta membantu kita untuk melaksanakan keenam sifat tersebut, karena tiada daya dan upaya melainkan dari Allah  SWT.  Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha mendengar lagi mengabulkan do’a. Aamiinn Yaa Robbal 'Aalamiin !!!!!

Wallahu A'lam.
Doakan istiqamah serta Sehat wal Afiat.
Wassalam USM. (Ustaz Sihabuddin Muhaemin).

Catatan:
ILMU ITU MILIK ALLAH SWT UNTUK DISEBARKAN.
Sila KONGSIKAN Dengan Sesama SAUDARA  KITA.
Mudah-Mudahan bermanfaat Untuk Semua.
Di Dunia Dan Di Akhirat Nanti. Insya-Allah. Aamiinn !!!!!

Kritik Dan Saran Yang Membina Sangat Dialu-alukan.
Sila tlp/sms kami, USM (012-6653988).
Atau layari laman facebook:
http://www.facebook.com:
USM - Sihabuddin Muhaemin.

TERIMA KASIH.
(Shah Alam, Ahad 21  Rejab 1436 H).

No comments:

Post a Comment